<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sekolah Alam Bandung</title>
	<atom:link href="http://sekolahalambandung.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekolahalambandung.com</link>
	<description>Sekolah Terindah dalam Hidupku</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Apr 2012 07:30:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Sekolah Alam Bandung versi Orang Tua Siswa</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2012/04/sekolah-alam-bandung-versi-orang-tua-siswa/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2012/04/sekolah-alam-bandung-versi-orang-tua-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 07:30:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Sekolah Alam Bandung by Yuria Pratiwhi Cleopatra on Saturday, 28 November 2009 at 21:30 · Setiap orang tua, tentu ingin selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak terkecuali saat sang anak sudah waktunya masuk sekolah. Biasanya, orang tua sudah pontang-panting menelusuri seluruh pelosok tanah air, jauh sebelum sang anak benar-benar akan masuk sekolah. Hal tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekolah Alam Bandung</p>

<p>by Yuria Pratiwhi Cleopatra on Saturday, 28 November 2009 at 21:30 ·</p>

<p>Setiap orang tua, tentu ingin selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak terkecuali saat sang anak sudah waktunya masuk sekolah. Biasanya, orang tua sudah pontang-panting menelusuri seluruh pelosok tanah air, jauh sebelum sang anak benar-benar akan masuk sekolah. Hal tersebut tentunya dilandasi semangat mencari dan memberikan yang terbaik itu tadi.
Bagaimanapun, terbaik atau terburuknya suatu pilihan banyak dilandasi oleh hal-hal yang subjektif. Dalam memilih sekolah juga demikian.
Seorang ibu yang ingin anak-anaknya berprestasi di dunia internasional, akan memilih sekolah yang memiliki akses tinggi pada aneka lomba dan olimpiade internasional
Mereka yang ingin anak-anaknya menjadi penghapal alQur&#8217;an, akan memilih sekolah yang menekankan pada hafalan al Qur&#8217;an
Mereka yang ingin anak-anaknya pintar berbahasa asing, akan memilih sekolah bilingual
Mereka yang ingin anak-anaknya &#8216;aman&#8217;, akan memilih sekolah dengan standar keamanan internasional
Dan begitulah, orang tua akan memilihkan sekolah anak-anaknya, sesuai dengan latar belakang, pengetahuan, ambisi dan cita-cita masing2. 
Itulah sebabnya tidak ada sekolah yang &#8216;sempurna&#8217;, seperti juga tidak ada sekolah yang &#8216;sangat buruk&#8217;.</p>

<p>Sebagai orang tua, saya dan suami juga tak lepas dari suasana gamang dalam menentukan pilihan. Dan saat ini, kami memilihkan Sekolah Alam Bandung untuk ketiga putra-putri kami.
Banyak yang bertanya mengapa??? atau &#8216;Mengapa begitu berani&#8217;???
Tentunya pilihan tersebut tak lepas dari subjektfitas kami juga sebagai orang tua. Beberapa pertanyaan mungkin dapat terjawab melalui catatan di bawah ini&#8230;</p>

<p>Sekolah alam Bandung, adalah sekolah yang terletak di sebuah lembah, nun di dago sana&#8230;
Tidak ada ruang kelas, gedung, kursi, meja&#8230;hanya saung dan bangku-bangku&#8230;alasan utama mengapa hingga saat ini SAB belum juga mendapatkan akreditasi dari Dinas Pendidikan. Juga alasan utama mengapa orang tua akhirnya enggan memilihkan SAB untuk putra-putrinya..&#8221;bagaimana nanti kelanjutan pendidikan anak kami?&#8221;begitu kira-kira pertanyaan yang sering terlontar</p>

<p>Di SAB, banyak sekali aktivitas belajar mengajar yang dilakukan di luar ruangan..&#8221;bagaimana nasib kulit 
mulus anak-anak kami nanti??&#8221; pertanyaan lain yang juga sering terpikirkan</p>

<p>Di sana, anak-anak banyak pula melakukan aktivitas outbond yang &#8216;unik&#8217;&#8230;&#8221;bagaimana sistem keamanan dan keselamatan anak-anak kami ?&#8221; itu juga pertanyaan atau keraguan yang sering terpapar..</p>

<p>Toh kami tetap memasukkan anak-anak kami ke SAB&#8230;sekali lagi..&#8221;Mengapa???&#8221;</p>

<p>Jawaban saya sebetulnya sangat sederhana&#8230; 
Saya memasukan anak-anak ke SAB justru karena SAB tidak menjanjikan apa-apa&#8230;tidak kemampuan kognitif yang tinggi, tidak suasana kompetisi yang dominan, bahkan juga tidak menjanjikan kekuatan fisik pada anak-anak didiknya..
Setiap anak adalah unik..demikian motto yang hingga sekarang masih dijaga dengan baik di SAB. Setiap anak belajar dalam suasana enjoy, tanpa tekanan, tapi juga penuh motivasi dan rasa kekeluargaan. Hal ini membuat anak-anak justru terpacu untuk memperlihatkan kemampuan terbaik mereka dalam banyak hal.
Saya memasukkan anak-anak ke SAB, juga karena saya mencari sekolah, yang dapat mengajarkan sesuatu yang tidak bisa saya ajarkan sendiri pada anak-anak saya. Dan itu saya temukan pada SAB. 
Saya bisa mengajarkan matematika, sains, ilmu sosial, ekonomi, bahasa, membaca dan menghafalkan al Qur&#8217;an&#8230;sehingga saya tidak terlalu mengkhawatirkan kemampuan anak-anak saya di bidang tersebut..
Tapi saya tidak bisa mengajarkan mereka survive dalam kehidupan di alam. Saya tidak bisa juga mengajarkan TEAM BUILDING pada mereka&#8230;Saya juga tidak dapat menyediakan cukup teman bagi mereka bersosialisasi, bertenggang rasa, memimpn dan dipimpin, mengemukakan pendapat, berdagang, dan sebagainya&#8230;Maka saya memilih Sekolah Alam Bandung untuk mereka.</p>

<p>Alhamdulillah, seperti firman Allah &#8220;Faidzaa &#8216;azzamta, fa tawakkal &#8216;alallah..&#8221;, demikianlah ikhtiar kami, azzam kami&#8230;benar dan salahnya kami kembalikan kepada Allah&#8230;maka Allah yang mengatur segalanya&#8230;menghilangkan keraguan di dada kami&#8230;
Anak-anak kami tumbuh menjadi anak-anak yang sehat fisiknya, kuat, percaya diri, rajin beribadah, selalu ingin tau dan selalu belajar&#8230;
Hafalan al Qur&#8217;an mereka bahkan lebih baik dari sebagian &#8216;aktivis da&#8217;wah&#8217; <img src='http://sekolahalambandung.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> 
Mereka terbiasa cepat beradaptasi dengan berbagai jenis kondisi alam, berbagai jenis manusia, hewan, bahkan teknologi dan ilmu pengetahuan..
Dan yang juga menentramkan, Sekolah Alam Bandung juga dapat &#8216;menggiring&#8217; siswa-siswanya pada kemampuan kognitif yang cukup baik. Alhamdulillah, nilai rata-rata UAN Akhyar per mata pelajaran mencapai &#8217;9&#8242;&#8230;tanpa stress, tanpa les..dan yang melegakan..tanpa curang&#8230;
Teman-temannya pun dapat melanjutkan pendidikan mereka di SMP lain tanpa masalah&#8230;walaupun Akhyar&#8230;dengan alasan yang sama..akhirnya kembali memilih Sekolah Alam Bandung di tingkat Sekolah Lanjut (SL), setara SMP.</p>

<p>Itulah sedikit yang dapat disampaikan dalam catatan ini&#8230;semoga dapat diambil ibrahnya. Aamiin</p>

<p>Like ·  · Share10 people like this.</p>

<p>1 share
Een Widianingsih wah jadi tertarik juga deh&#8230;kebetulan kt jg lg pilih2 sekolah klo nti plg k indo&#8230;klo dibndingin sdit gmn?
29 November 2009 at 01:17 · Like</p>

<p>Endang Rika Kurniawati subhanallah&#8230;jazakillah atas sharing pengalamannya tPatra. Saya jg lagi mulai cari2 SMP nih buat Faris yg msh kls 5. Susah jg ternyata cari sekolah yang sesuai dengan kebutuhan dan idealisme kita&#8230;
29 November 2009 at 04:27 · Like</p>

<p>Luci Irawati Inspiring Notes&#8230;Satu hal lagi Neng Patra&#8230; Di sekolah alam memberikan kesempatan kpd anak2 masa kecil yang menyenangkan, sbgm yg pernah kita alami dulu, bermain dan bersosialisasi dg alam yg smkn sulit dicari di kota2 besar spt Jkt. Ini salah satu alasan mengapa aq jg memilih Sekolah Citra Alam Ciganjur..agar anak2ku tdk mjd &#8216;anak autis&#8217; yg seharian bermain di &#8216;alam maya&#8217;&#8230;
29 November 2009 at 08:13 · Like</p>

<p>Yuria Pratiwhi Cleopatra ‎@ t Een&#8230;ya itu tadi teh&#8230;ga bisa dibandingin..saya ingin anak-anak bebas dan enjoy, dan saya dapet di SAB, alhamdulillah suasananya Islami, guru-gurunya dapat jadi teladan bagi siswa
 @ Mb Luci&#8230;iya mbak&#8230;apalagi di jakarta ya&#8230;ga ada gunungnya ..:)
29 November 2009 at 10:37 · Like</p>

<p>Kurnia Hayati yg penting,anak2 kami pun bahagia bersekolah di skolah alam&#8230;
29 November 2009 at 13:57 · Like</p>

<p>Eva Sofia cukup menginspirasi&#8230; survive di alam jadi point utama yg ga bisa ditemukan di tempat lain. jzk
29 November 2009 at 16:03 · Like</p>

<p>Nurani Esti Lestari Kalo aku pindahin anakku yang kelas tiga, dengan segala kekurangan dan kemalasannya apa cukup membantu dan bijaksana ya?&#8230;. Mamanya yang kabita&#8230;hehehe. Soo nice share, t Patra.
29 November 2009 at 17:02 · Like</p>

<p>Yuria Pratiwhi Cleopatra ‎@ Mba Nu..Survey and sit ini (trial class) bisa membantu objektivitas..Kalau anak, ortu dan sekolahnya saling cocok&#8230;dimanapun&#8230;Insya Allah bisa bahu membahu membentuk masa depan yang lebih baik..
29 November 2009 at 18:07 · Like</p>

<p>Amelia Farianti smp di SAB sdh ada brp angkatan teh? walaupun blm dpt akreditasi, bs UAN jg ya?gabung sm sd negeri terdekat?coz kmrn di sklh alam di bekasi begitu
29 November 2009 at 20:55 · Like</p>

<p>Yuria Pratiwhi Cleopatra ‎@Amel : Ada kelas 1 dan kelas 3, kemarin UN gabung sama SD lain, tapi ga masalah ko, biasa aja <img src='http://sekolahalambandung.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Yang ke SMP negeri juga ga da masalah
30 November 2009 at 07:45 · Like</p>

<p>Lita Edia ‎&#8217;senasib&#8217; patra:)&#8230;saya juga akan memindahkan anak pertama dari SDIT ke Kebun Main Cilangkap, tidak sengaja memilih sekolah alam, hanya kebetulan di sekolah ini (kebun main cilangkap) yang paling cocok konsepnya. Sukses UAN tanpa stress &#8230;See more
30 November 2009 at 13:00 · Like</p>

<p>Yuria Pratiwhi Cleopatra ‎@ Lita, betul Ta&#8230;bumi kita butuh banyak orang-orang yang berani <img src='http://sekolahalambandung.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> 
30 November 2009 at 13:16 · Like</p>

<p>Endah Dahlan Alhamdulillah&#8230;..sharing-​nya cukup menguatkan niat saya. Jazakillah teh
30 November 2009 at 19:28 · Like</p>

<p>Miawati Miaw hmm, kalo ibunya kayak patra, anaknya sekolah dimanapun pasti cemerlang sih&#8230;he2
30 November 2009 at 20:08 · Like</p>

<p>Irena Puspawardani hehe&#8230;..anakku jg sekolah di sekolah alam&#8230;..dan yg diomongin patra bener semuah tuh&#8230;..moga2 jd ilmu jg buat para ortu yg lagi cari sklh&#8230;..:-)
2 December 2009 at 04:05 · Like</p>

<p>Yuria Pratiwhi Cleopatra Waaah&#8230;di Balikpapan ada sekolah alam juga ya&#8230;alhamdulillah..
2 December 2009 at 17:51 · Like</p>

<p>Lita Edia Adanya karena Rena pindah balikpapan tuh&#8230;ntar dia balik ke sini&#8230;.bikin lagi dia&#8230;he3&#8230;ya nggak Ren..?? Kamu bikin di cibubur donk&#8230;biar anak2ku sekolahnya nggak jauh he3&#8230;.ngarep.com
2 December 2009 at 18:12 · Like</p>

<p>Irena Puspawardani ‎@patra: iya alhamdulillah&#8230;..hehe
 @lita: eughhh &#8230;..ntar lah klo aku bisa nanem pohon duit&#8230;..aku bikinin buat kmu khusus&#8230;.:-P&#8230;.hehe&#8230;.
2 December 2009 at 18:21 · Like</p>

<p>Ayi Intan P Darmawan Patra&#8230;patra&#8230;.pusing keinginan ama kantong nih, masuknya aja 7 juta, mana musti ngontrak rumah di bandung, jadi 2 dapur deh ama tasik&#8230;Gara-gara pusing ayi ama temen malah jadi mau bikin &#8216;Right Home&#8217; nih..rumah otak kanan&#8230;rumah dimana&#8230;See more
3 December 2009 at 21:52 · Like ·  1</p>

<p>Niesye A Ramadina Sudah ada SL toh di SAB? tahniah deh&#8230;dulu pas pertama kali tau ada Sekolah Alam, langsung jatuh hati ( pdhal masih kuliah), dah pengen aja anak2ku kelak sekolah di sana. Dulu fathia juga sempat di Sekolah Alam Bojongkulur, cuma sebentar&#8230;sekarang terpaksa di International School, dengan hati kebat kebit&#8230;., shukron ya Pat..
 @Ayi : ditunggu launching Sekolah Alamnya yaa&#8230;
4 December 2009 at 05:59 · Like</p>

<p>Yuria Pratiwhi Cleopatra ‎@ Ayi&#8230;saya dukung deh Ayi bikin sekolah alam di tasik&#8230;yang penting all out ya&#8230;soalnya, sekolah alam fokusnya bikin hepi anak-anak dulu..bukan pendirinya hehe&#8230;
 Yang komen di atas itu rata-rata ortu sekolah alam juga Yi, ada mb Luci,&#8230;See more
4 December 2009 at 13:22 · Like</p>

<p>Ayi Intan P Darmawan Hmm maunya tinggal ama Patra&#8230; hehe ntar jadi adiknya afra ke-2 hehe.Iya sih Pat emang ijtihad, sekolah SDIT, TKIT juga ijtihad, sekolah alam juga ijtihad&#8230;hehe masih keukeuh pengen bikin sekolah alam tasik..ntar kalo mentok&#8230;yah apa bol&#8230;See more
8 December 2009 at 20:48 · Like</p>

<p>Yuria Pratiwhi Cleopatra hehe&#8230;ayi ada aja&#8230;iyalah pake otak&#8230;masa pake yang lain <img src='http://sekolahalambandung.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> 
9 December 2009 at 09:56 · Like</p>

<p>Saka Madyagu Badisga Saya salut dengan Ummu Akhyar. Menyekolahkan anak untuk mempelajari hal-hal yang TIDAK BISA diajarkan di rumah. Karena mayoritas saat ini, para orang tua karir menyekolahkan anak untuk mempelajari hal-hal yang TIDAK SEMPAT diajarkan di rumah. Dan itu perbedaan yang besar.
10 December 2009 at 12:38 · Like</p>

<p>Sri Yayu Indriyani R Alhamdulillah.. semoga pemerintah menjadikan Sekolah Alam sebagai sistem sekolah nasional. Supaya seluruh rakyat INA juga dapat menikmatinya. Satu hal lagi biaya sekolah bisa terjangkau. 
13 April 2010 at 22:34 · Like</p>

<p>Ita Karolina TK aja ada pe-er tiap hari..huuu..baca-nulis-ngi​tung-komputer, baca-nulis-ngitung-kompute​r, tar jd robot aja tuh bocah2&#8230;streeesss (tapi herannya ortu2 pada milih sekolah yg ngasi PR paling banyak, biar ga maen doank ceunah). cape nih nyari sekolah, mo milih sekolah alam jauh nun mahal&#8230;hiks&#8230;pendidikan.​..pendidikan&#8230;hiks&#8230;(hom​eschooling aja kali ye..emaknya resign gituh? :p)
14 April 2011 at 23:48 ·</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2012/04/sekolah-alam-bandung-versi-orang-tua-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Ajaib di Sekolah Alam Bandung</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2012/04/dunia-ajaib-di-sekolah-alam-bandung/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2012/04/dunia-ajaib-di-sekolah-alam-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 13:30:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=313</guid>
		<description><![CDATA[Dunia Ajaib di Sekolah Alam Bandung by Fatharani Yasmin Shaffiyya Sani on Sunday, 8 April 2012 at 19:07 · oleh: Fia Meniti hari, merajut masa depan! Berkawan langit, bumi dan air Disekolahku tercinta! Sekolah Alam Bandung, itulah nama sekolah kami. Dimana segala keajaiban terjadi disana, dimana udara segar bisa kami hirup setiap waktu. Banyak sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia Ajaib di Sekolah Alam Bandung</p>

<p>by Fatharani Yasmin Shaffiyya Sani on Sunday, 8 April 2012 at 19:07 ·</p>

<p>oleh: Fia</p>

<p>Meniti hari, merajut masa depan!</p>

<p>Berkawan langit, bumi dan air</p>

<p>Disekolahku tercinta!</p>

<p>Sekolah Alam Bandung, itulah nama sekolah kami. Dimana segala keajaiban terjadi disana, dimana udara segar bisa kami hirup setiap waktu. Banyak sekali kenangan-kenangan tak terlupakan sewaktu kami bersekolah disana. Dari mulai mencari undur-undur bersama sampai terjadinya perang antar kelas, adalah saat-saat terindah kami. Kenang-kenangan yang sulit dilupakan. Akan kuceritakan satu-satu pada kalian kenangan-kenangan ini. Agar kalian tahu betapa indahnya sekolah kami.</p>

<p>Di Rumah Pohon Tua</p>

<p>Ada sebuah rumah foto tua di sekolah kami, letaknya dipinggir lapangan yang sering dipakai anak laki-laki untuk main sepak bola. Rumah pohon tua yang hanya terdiri dari satu ruangan tanpa dinding, lantainya terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari jerami kering dengan pagar kayu bundar yang dicat warna-warni sebatas dada anak kecil di sekelilingnya, tangganya tersusun melingkari tiang penyangganya yang terbuat dari kayu gelondong raksasa. sekarang rumah pohon itu sudah dihancurkan, konon karena sudah terlalu tua dan rawan rubuh. Kami hanya bisa memandang sisa-sisa kayu dan tiang rumah pohon itu dipinggir lapangan beberapa hari setelah rumah pohon itu dirubuhkan. Padahal rumah pohon itulah sumber inspirasi kami. Aku dan teman-temanku yang lain sering mendirikan Shalat Dzuhur berjamaah disana, dan aku sebagai imam, hehehe. Pernah juga kami memimpikan mimpi yang sama disana, bahkan perang mulut dengan para kakak kelas gara-gara kami menggoda mereka dari atas rumah pohon itu. Sungguh menyenangkan bermain disana. Seakan rumah pohon tua itu adalah rumah kecil kami, dan sumber inspirasi terbesar kami.</p>

<p>Di Kolong Saung Kelas</p>

<p>Kelas-kelas di sekolah kami semuanya terbuat dari kayu, dan disebut saung. Beratap genteng merah dan tak berdinding. Panas diwaktu panas dan dingin diwaktu dingin. Saung-saung itu disangga empat (beberapa enam sampai delapan) buah tiang dari semen yang cukup tinggi, sehingga kami bisa main di kolong saung-saung itu. Bagian itu memang gelap dan misterius, beberapanya ditumbuhi pohon-pohon kecil, dan tempat yang cukup nyaman bagi laba-laba untuk bersarang. Walaupun begitu, kami sangat suka masuk ke sana dan mencari beberapa ‘harta karun’ kecil yang berupa manik-manik kecil beragam bentuk seperti manik-manik biru bening, permata imitasi, payet-payet dan kelereng gepeng yang langka! Kami tak peduli pada nyamuk atau laba-laba yang tiap waktu mengelilingi kami disana. Itu tempat yang sempurna untuk bersembunyi, aku dan beberapa teman perempuanku yang lain pernah bersembunyi disana dari kejaran makhluk-makhluk lumpur seram jelmaan dari teman-teman laki-laki kami yang habis perang lumpur. Teman kami, Zhahri, pernah menemukan sebuah koin antik disana, konon itu adalah koin dari inggris. Akupun sering menemukan manik-manik kecil. Kolong-kolong saung itu tak bisa dimasuki oleh orang dewasa, maka kami hanya bermain disana sewaktu kami TK-kelas 1. Masih ada kolong saung yang bisa dimasuki, namun sudah tidak apa-apa yang bisa kami ambil. Hanya beberapa tumpuk genteng yang sudah lapuk, tirai bambu yang sudah rusak, serbuk kayu, dan sarang undur-undur. Konon disalah satu kolong-kolong kelas itu terkubur setumpuk manik-manik misterius yang tertimbun semen. Tak ada yang bisa menggalinya sampai sekarang, aku masih penasaran ingin melihat apa isi timbunan semen itu, sampai hari ini.</p>

<p>Di Lapangan</p>

<p>Hanya ada sebuah lapangan di sekolah kami. Walaupun lapangan itu masih termasuk kecil, lapangan itu sangat berguna dan penting. Dulu lapangan itu ditumbuhi rumput yang subur, sekarang sih gersang dan perpasir, dan penuh lumpur di musim hujan. Banyak sekali kejadian atau peristiwa-peristiwa penting yang terjadi disana. Pernah beberapa kali terjadi ‘angin topan’ kecil disana, saat para anak laki-laki sedang ber sepakbola-ria. Aku juga pernah membuat sebuah gambar raksasa menggunakan sapu lidi milik karyawan sekolah di atas lapangan itu agar adik-adik kelasku dapat mengaguminya (dulu aku sombong juga), murid-murid lain melihat gambarku itu dengan pandangan yang sulit kumengerti. Lapangan itu juga adalah tempat landasan roket air kelasku, mulai dari roket bocor sampai roket yang terbang tinggi ke langit. Itu pelajaran favoritku saat itu, dibimbing oleh guru kesayangan kelas kami, Sensei Dino. Lapangan itu pula tempat kami melihat fenomena ‘Hallo’ matahari dan ‘Hallo’ bulan. Dan membuat api unggun bersama disana saat acara kemping dilaksanakan. Berbagai lomba dan permainan dilaksanakan diatas tanah lapang itu. lomba lari, permainan perang, halang rintang dan lain-lain. Benar-benar lapangan yang legendaris. Hahaha.</p>

<p>Perang Antar Kelas</p>

<p>Pernah terjadi sebuah kejadian bersejarah di Sekolah Alam Bandung, yaitu perang antar kelas. Tak memakan waktu berminggu-minggu perang sudah usai, akupun tak mengerti apa maksud perang tersebut, sepertinya sih hanya main-main. Anak laki-laki kelas kami dan pihak musuh yang merupakan adik kelas membuat senjata sendiri. Tentu senjatanya tak terlalu berbahaya seperti senjata anak-anak zaman sekarang seperti senapan plastik dengan peluru plastik berkecepatan tinggi yang bisa membahayakan tubuh seseorang. Senjata mereka saat itu adalah senapan kayu, bukan senapan kayu biasa, yang satu ini bisa menembak! Terbuat dari dua potongan kayu atau bambu kecil yang di sambung jadi seperti senapan, dengan karet, peluru dilepaskan seperti katapel modern. Pelurunya berupa buah kersen mentah.</p>

<p>Kami anak-anak perempuan tugasnya adalah mengambilkan amunisi dan mengobati yang luka (tak ada yang terluka, ternyata). Mereka perperang tak kenal tempat, bahkan tak begitu peduli jika ada orang yang lewat ketengah area perang. Mengingat kejadian itu, aku jadi teringat pada Palestina. Maka aku berharap semoga tak terjadi perang seperti itu lagi (walau sangat seru).</p>

<p>Kolam</p>

<p>Sekolah kami memiliki sebuah kolam. Mungkin kira-kira ukuran kolam itu tigaperempat lapangan sekolah. Airnya berwarna hijau penuh dengan tumbuhan air. Jika kau turun kesana, kau akan berpijak pada lantai lumpur hitam lembut yang akan membuat kuku-kuku jarimu menghitam saat kamu keluar. Sejauh yang bisa kuingat, bermain dikolam itu benar-benar seru, dulu, para guru membuat beberapa rakit dari bambu lengkap dengan dayungnya. Kami suka sekali mendayung rakit-rakit kami ketengah kolam yang dulu tampak luaaas sekali (dulu badan kali kecil, sekarang kolam itu tampak menciut dihadapan kami) kini, warna kolam itu menjelma coklat. Keruh. Namun para adik-adik kelas tetap meneruskan kegiatan kami dulu, walau pengguna kolam itu sudah sedikit. Rakit-rakit yang dulu kami naiki sekarang sudah hilang. Mungkin rusak atau memang sengaja disingkirkan. Karena memang dulu sebuah rakit yang penuh ditumpangi anak-anak TK pernah terjungkir, untung saja semua selamat, kalian mau tahu siapa yang tenggelam paling lama? Ya, aku.</p>

<p>Senandung Sahabat-sahabat</p>

<p>Permisi… Permisi… Permisi…</p>

<p>Anak Sekolah Alam mau lewat…</p>

<p>Kami mau ke alam, bermain dengan alam!</p>

<p>Permisi… Permisi… Permisi…!</p>

<p>Itulah lagu yang sering kami nyanyikan sewaktu kami masih kelas satu SD. Bersama guru kami yang baik, Pak Iqbal, kami berjalan berbaris menerobos jalan setapak yang penuh semak dan rumpun-rumpun bunga kecil, pohon-pohon menaungi kami dari sinar mentari. Celana dan rompi sekolah kami basah menyerap embun-embun yang menempel di rumpun-rumpun bunga itu. Sepatu bot yang kami pakai berdenyit-denyit seiring langkah kami yang kecil dan banyak, menyaingi suara-suara hutan—air—tonggeret dan jangkrik. menuju sebuah taman, entah darimana, ada yang menamai taman itu Taman Buaya.</p>

<p>Taman Buaya terletak didekat sebuah curug, namanya Curug Dago. Taman Buaya adalah sebuah taman kecil yang nyaris tertutup oleh hutan—pepohonan—semak-semak. Ada beberapa petak pohon yang ditanam di beberapa titik di taman itu, entah sudah berapa lama sejak biji pohon-pohon itu ditanam, kini pohon-pohon itu sudah tumbuh tinggi dan besar, sehingga akarnya yang perkasapun menghancurkan ubin-ubin lantai taman yang sudah berlumut. Taman itu beratap pohon, dan nyaris tak pernah sunyi, hampir setiap waktu serangga bernyanyi siang dan malam, disela gema derasnya gemuruh air terjun di curug. Meramaikan suasana selalu.</p>

<p>Walaupun Taman Buaya bukan bagian dari Sekolah Alam, namun tetap menakjubkan dan asyik untuk dikunjungi, sekarang kalian bisa melihat banyak pasangan yang memilih bermesraan disana.</p>

<p>Selain senandung alam, sebetulnya bagian inilah yang kusuka, yap, kami membuat lagu khas sekolah kami. Itu saat-saat yang menyenangkan. Guru musik kami di waktu itu, Pak Isa, meminta beberapa sukarela untuk membuat puisi. Puisi-puisi yang bagus akan diberi nada dan dijadikan sebuah lagu! Waktu itu aku masih terlalu polos untuk mengerti sastra, maka kakak-kakak kelas kamilah yang membuat puisi. Inilah beberapa hasilnya, hanya beberapa bait. kami menyanyikannya bersama-sama:</p>

<p>Harimau Biru Muda</p>

<p>Apa kau lihat… Apa kau lihat…</p>

<p>Harimau biru muda?</p>

<p>Bila kau lihat, bila kau lihat…</p>

<p>Beri tahu aku!</p>

<p>Burung Kecil</p>

<p>Burung kecil, burung kecil</p>

<p>Jangan kau pergi jauh…</p>

<p>Ibumu menunggu, adikmu menangis</p>

<p>Menunggu makan darimu…</p>

<p>Kucing</p>

<p>Oh, kucing, kucing</p>

<p>Kau sangat lucu</p>

<p>Oh, kucing, kucing</p>

<p>Kau sangat bersih!</p>

<p>Tetapi mengapa kau sangat kotor?</p>

<p>Ingin aku membersihkanmu!</p>

<p>Menjadi seputih salju!</p>

<p>Meeoong meoong…</p>

<p>Kami menyanyikannya diiringi petikan gitar Pak Isa. Jika kau membaca lirik lagu-lagu diatas, benar-benar lucu, ya! Itu adalah lagu-lagu yang hanya ada di Sekolah Alam. Akhirnya, seorang dari guru-guru kami, namanya Bu Tati, menulis syair untuk dijadikan Ritme Sekolah Alam Bandung oleh Pak Isa. Ini lagu yang paling kusuka, jika kunyanyikan sekarang aku jadi ingin menangis, betapa manisnya kenangan kami dulu waktu menyanyikannya.</p>

<p>Sekolah Alam Bandung Rythme</p>

<p>Meniti hari, merajut masa depan</p>

<p>Berkawan langit, bumi dan air</p>

<p>Disekolahku tercinta!</p>

<p>Terkenang slalu masa yang indah</p>

<p>Penuh canda dan juga tawa</p>

<p>Berbalur lumpur mandi keringat!</p>

<p>Reff:</p>

<p>Sekolah Alam Bandung, sekolahku terindah</p>

<p>Sekolah Alam Bandung, sekolahku tercinta!</p>

<p>Kepiting di kiriku, pena dikananku</p>

<p>Bermacam buku yang aku baca</p>

<p>Kupahami kehidupan!</p>

<p>Reff:</p>

<p>Sekolah Alam Bandung, sekolahku terindah</p>

<p>Sekolah Alam Bandung, sekolahku tercinta!</p>

<p>Hahaha hahaha!</p>

<p>Epilog</p>

<p>Semua tulisan diatas Cuma sebagian dari semua kisah yang ada disekolah kami. Ini semua kutulis berdasar versiku sendiri. Jika kalian dapat mendengar versi teman-temanku, aku yakin, kalian takkan menyesal, karena setiap hari ada petualangan baru. Menurutku, sekarang sekolah kami tak seindah dulu, mungkin hanya karena sekolah kami direnovasi agar lebih rapi (dulu berantakan dong?). namun disanalah dulu tempat jari-jari kaki kami menjejak, lewat lumpur dan rumput, sawah dan pasir. Sekolah Alam Bandung!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2012/04/dunia-ajaib-di-sekolah-alam-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH ALAM BANDUNG</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2012/04/sekolah-alam-bandung/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2012/04/sekolah-alam-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 09:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=306</guid>
		<description><![CDATA[SEKOLAH ALAM BANDUNG By: Nadira Nanda P. W (Alumni SAB) Sekolah Alam Bandung (SAB) letaknya agak masuk ke pedalaman, dekat perkampungan Tanggulan, dekat ke sebuah hutan kecil yang kunamai Hutan Pinus, dekat pula ke sebuah curug – air terjun kecil yang sudah kotor sekali sekarang. Curug Dago namanya. Agak jauh dari jalan raya, jauh dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEKOLAH ALAM BANDUNG</p>

<p>By: Nadira Nanda P. W (Alumni SAB)</p>

<p>Sekolah Alam Bandung (SAB) letaknya agak masuk ke pedalaman, dekat perkampungan Tanggulan, dekat ke sebuah hutan kecil yang kunamai Hutan Pinus, dekat pula ke sebuah curug – air terjun kecil yang sudah kotor sekali sekarang. Curug Dago namanya. Agak jauh dari jalan raya, jauh dari gas beracun hasil dari penyebar polusi bernama kendaraan bermotor.</p>

<p>Sekolahku 10 km jauhnya dari rumahku. Dua kali aku mengunjunginya dengan sepeda bersama seorang temanku, si cantik Sophia. Berkali-kali kami harus beristirahat karena selain jauh, kami harus berjalan menanjak ketika memasuki daerah perbukitan. Tak banyak uang yang kubawa, maka ketika sudah ‘masuk dengan penuh kemenangan’, hal yang pertama kami minta pada penjaga sekolah adalah air minum. Keringat membasahi seluruh badan, tentunya kami kepanasan sekali. Setelah beristirahat kami melanjutkan perjalanan ke rumah teman sekelas ketika masih SD dulu. Sekitar 1 km jauhnya dari sekolah. Setelah kembali ke sekolah, kami bersepeda pulang.</p>

<p>Jika bersepeda di pinggir jalan raya melelahkan dan menyesakkan, bersepeda di alam membuatmu menghilangkan rasa lelah itu. Setelah membersihkan paru-paru, kami bersepeda di sekitar SAB.</p>

<p>Semua anak pasti betah berada disana. Aku suka berada di alam dan aku benci perkotaan. Aku jauh lebih senang tinggal di rumah kayu, atau saung. Ditengah ladang, kebun, atau hutan. Aku lebih suka melihat semak dan rumput hijau ketimbang sampah yang menumpuk di pinggiran jalan raya.Aku lebih suka untuk memberikan kesempatan pada jangkrik dan belalang mengerik di malam hari, tonggeret yang menguir di kala senja, mempersilakan kunang-kunang berkelip-kelip di antara rerumputan, atau mendengarkan suara anggun dari makhluk bernama burung hantu yang sebenarnya jauh lebih cantik daripada namanya. Aku jauh lebih suka mereka daripada monster bernama kendaraan bermotor yang telah membunuh dan mengusir mereka dari kota. Oh, dan jangan lupa mengucapkan terima kasih pada sepeda.</p>

<p>Di sekolahku SAB, ada banyak hewan-hewan yang kusayangi itu. Itu salah satu faktor kenapa aku sangat menyukai sekolah itu. Belalang, jangkrik, ulat, elang, dan burung hantu pernah kami pelihara. Jangan lupa ular kobra dan kalajengking.</p>

<p>Harus kau tahu, aku tidak takut sama sekali pada ular. Malah bisa dibilang aku menyukainya. Jadi jangan heran sementara semua orang menjauhi kurungan ular kobra dibawah rumah pohon tadi, aku asyik memperhatikan dan menyelidiki hewan melata itu. Jangan heran pula jika ada ‘penampakan’ ular di sekolahku, atau di rumahku, pasti ada saja seseorang yang memanggilku untuk menyingkirkannya. Itu memang tugasku, dan aku tak sampai hati untuk membunuhnya, jika itu yang terlintas di benakmu ketika aku menyebutkan kata “menyingkirkan”. Kadang memang terjadi ‘penampakan’ ular di sekolahku. Tentu saja, karena disini masih sejuk, hijau, dan masih cukup banyak tempat bagi hewan-hewan yang terusir dari kota untuk berkembang biak. Mereka biasa muncul pada pagi hari, setelah matahari terbit. Mereka harus menghangatkan diri agar bisa beraktifitas, karena mereka hewan berdarah dingin, dan suhu tubuhnya sama dengan suhu sekelilingnya. Dulu, saat musim hujan, suhu di sekolah pada malam hari termometer bisa menunjukan 18 dalam skala Celcius. Cukup dingin, tentunya. Jadi wajarlah kalau berbagai jenis ular kadang-kadang berjemur di lapangan kami untuk menghangatkan diri.</p>

<p>Dan, ular yang kedinginan ini bisa menimbulkan kehebohan di sekolah. Orang lain mulai panik, aku malah girang sekali. Jadi, begitu ada teman sekelas – bahkan tak jarang dari kelas yang lebih kecil atau besar– memanggilku dan melaporkan bahwa ada ular yang menampakkan diri, aku akan segera terbang menuju TKP tanpa buang-buang waktu lagi untuk memakai sepatu atau alas kaki apapun. Aku memang lebih suka bertelanjang kaki di sekolah. Menurutku, dengan begitu aku bisa merasakan kekuatan alami bumi, tanpa ada yang menghalangi. Dan, begitu sampai di TKP, semua orang yang bergerombol disitu akan menepi dan memberiku jalan untuk menangani si ular (dan saat itu aku merasa menjadi orang yang sangat pentiiiiing sekali!). Lebih baik kutangani si ular daripada dia mati di tangan algojo yang tak lain adalah seorang guru yang sedang memegang sebuah gayung. Ketika aku datang, sang guru sudah mengangkat gayung, siap untuk membunuhnya. Segera kuhadang dia dan kutangani si ular. Aku biasanya hati-hati sekali dalam menangani ular. Aku tahu ular yang gerakan lidahnya kaku atau pelan, biasanya dia berbisa, atau bahkan mematikan. Jika gerakannya cepat dan bersemangat, kemungkinan besar ular itu berbisa rendah, atau malah tidak sama sekali. Aku ingat, ular yang hampir mati di tangan algojo itu berwarna coklat. Jadi, bukan ular air atau ular kecil lainnya yang biasa kucari setelah pulang sekolah. Kini aku mulai takut ular itu termasuk jenis ular tanah, berbisa sedang. Thanks God, aku tidak digigit sama sekali. Mungkin dia tahu aku sedang menyelamatkannya dari kematian. Kubawa dia dan kulepaskan di pinggir sawah, di seberang lapangan.</p>

<p>Kasus lain, aku sedang bermain di playground, bersama teman-temanku yang lain. Seperti biasa, aku bertelanjang kaki. Dan aku tak peduli kalau kakiku bakal jadi lebar seperti kaki manusia purba. Ada sebuah kolam kecil dari batu-batu sungai (lava basal), tempat kami biasa mencari kepiting dan kalajengking air. Airnya terus mengalir sampai ke kandang angsa. Dan angsa adalah satu-satunya pelarian kami jika makanan dari katering tidak habis. Oh, dan aku teringat beberapa ekor angsa yang disembelih ketika wabah flu burung merebak. Kami memohon-mohon agar angsa dengan warna bulu putih berkilap tidak dipotong; dialah yang paling cantik. Dan, ketika aku sedang asyik sendiri berayun tinggi di ayunan, seorang teman sekelas berlari dan memberitahu ada ‘anak ular’ di dekat kolam. Dari ayunan yang sedang berayun tinggi, aku segera meloncat kedepan dan mengejar si pelapor yang sudah lari duluan. Di atas batu yang dijadikan jalan setapak, seekor ular kawat sedang berjemur. Ular itu kecil dan tidak berbahaya. Makanannya saja anak rayap, dan kukira dia sama butanya dengan cacing. Sama sekali bukan anak ular.</p>

<p>Selain ular, kami juga pernah punya peliharaan burung elang. Tentu saja kami tahu bahwa elang hewan yang dilindungi, tak boleh dipelihara. Tapi, elang itu terluka dan sayapnya patah. Mungkin korban dari pemburu liar. Begitu kata penjaga sekolah yang menemukannya di hutan. Lebih baik dibawa daripada ditinggalkan dan dibiarkan mati di hutan. Elang itu ditempatkan di sangkar besar dari kawat dan kayu. Letaknya dekat dengan kandang angsa dan persis disebelah kolam semen yang ditinggali kura-kura sawah besar. Semua murid senang sekali memelihara elang itu. Mereka membawa dan memberikan apa yang mereka bisa untuk makanannya. Ada tikus, hamster, kodok atau bahkan belalang. Banyak juga yang memberikan ayam goreng bekalnya.</p>

<p>Seekor burung hantu juga pernah jadi hewan peliharaan kami. Sama seperti si elang, sayapnya juga ditemukan patah oleh penjaga sekolah. Mulailah kami semua memeliharanya. Sampai akhirnya sayapnya sembuh, tapi dia tak mau pergi sekalipun sudah dilepaskan di hutan. Dan entah kenapa, dia tak bisa terbang lagi. Kemana-mana dia meloncat-loncat di tanah. Pada suatu pagi aku datang dan tak menemukan dia dimanapun. Ada yang bilang dia dimakan kucing. Yang lain bilang dia berhasil terbang dan pulang ke hutan.</p>

<p>Mungkin biawak yang diikat dibawah jembatan di Tanggulan (nama kampung dekat sekolah kami) bisa disebut peliharaan juga jika kami membantu memberikan makanan untuknya (dan ‘makanan’ itu termasuk roti, bekal yang tak habis, dan tulang ayam). Konon biawak itu mati karena dilempari batu oleh seorang teman sekelas dan seorang adik kelasku.</p>

<p>Penjaga sekolah juga pernah menangkap seekor induk kalajengking. Lucu deh, puluhan anak kalajengking berwarna putih bertumpuk-tumpuk di punggungnya.</p>

<p>Asyik sekali bermain di alam. Kadang kami mencari belalang, jangkrik atau serangga apapun dan kami lemparkan ke sarang laba-laba. Lalu, dengan seksama kami perhatikan bagaimana laba-laba itu menggigit, lalu membalut serangga yang kami korbankan dengan cekatang sementara cairan berwarna hitam keluar dari mulut serangga perngorbanan. Atau, kami menggali tanah di kebun untuk mencari cacing yang nantinya kami jadikan umpan memancing, atau untuk makanan si kura-kura sawah. Kegiatan lain seperti mencari belut di sawah pun menyenangkan. Sambil perang lumpur sekalian. Salah satu permainan favorit kami adalah mencari undur-undur. Tahu, kan? Itu semacam serangga tanah yang aneh. Sarangnya berbentuk corong, dan dia tinggal dibawah pasir. Sehingga jika ada semut yang jatuh, semutnya tak bisa keluar dan undur-undur akan menyergapnya dari dalam tanah. Dengan sedotan bekas, kami semua tahu caranya menangkap undur-undur. Setelah menentukan siapa yang paling hebat menangkapnya, semua undur-undur kami lepaskan kembali.</p>

<p>Dengan lebih mendetail, akan kuceritakan situasi yang ada ketika kami terlibat perang. Kami suka sekali keadaan yang menantang. Mulai dari kegiatan outbound, apalagi jika kegiatan itu berada di luar lingkungan sekolah. Kegiatan outbound kami berbagai macam jenisnya. Mulai dari meniti tali tambang di atas kolam ikan besar. Tapi talinya tidak sejajar seperti rel kereta. Kalau begitu, sama sekali tidak menantang. “Bayi pun bisa,” begitu kata kebanyakan dari kami. Tali tambangnya berpotongan di tengah, membentuk huruf X. Bagaimana kami melewati kolam dengan jembatan dua utas tambang yang bersilangan? Maacam-macam. Ada yang merangkak dengan hati-hati ada pula yang berayun seperti monyet melewatinya. Ada flying fox yang dimulai dari kelas paling atas (sekolah kami barbukit-bukit tanahnya) sampai ke rumah pohon di lapangan bawah. Dari kelas atas, kami harus melompat dulu ke bawah dan barulah kami bisa meluncur. Bukan sekedar meluncur biasa sambil berpegangan. Itu untuk balita. Flying fox kami lebih manantang dan seru. Mulai dari meluncur dengan terlentang, meluncur ala Superman, sampai meluncur dengan kepala dibawah. Kadang tali untuk pegangan di pisahkan di katrol lain yang diikat dengan tambang kecil. Ketika kau sudah setengah jalan menuju ke bawah, tali pegangan akan disentakan ke atas, sehingga peganganmu akan terlepas dan mau tak mau selama sisa perjalanan menuju rumah pohon, kepalamu harus berada di bawah (kalau kau tak cepat-cepat menyambar tambang lain yang mengikat tubuhmu). Kadang ada umpan berupa uang dalam botol digantungkan di pohon di sebelah jalur flying fox. Uang itu bisa menjadi milikmu jika kau bisa merenggutnya lepas.</p>

<p>Kegiatan outbound di luar sekolah lebih seru lagi. Melacak jejak, perang pinus, rock climbing, trekking, kegiatan konservasi, mengenali batu di sungai, dan lainnya. Pernah juga mendaki batu licin yang bisa disebut curug kecil di pinggir bawah sawah. Pecaya atau tidak, sudutnya hampir 90o, kurasa.</p>

<p>Kegiatan seperti berkemah sangat membuat kami bergairah. Bagaimana tidak? Malamnya kami biasa mengadakan uji nyali di sekitar hutan. Lapangan bawah, biasa dibagi menjadi dua area perkemahan. Perkemahan laki-laki dan perempuan. Biasanya kami berkemah pada malam gerhana bulan. Setelah aku keluar dari sekolah, terjadi gerhana bulan penuh, satu kali. Aku menyesal tidak bisa ikut. Pastinya asyik sekali mengamati gerhana bulan penuh lewat teleskop. Sementara menunggu malam, sorenya kami mendirikan tenda, mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan bahan-nahan untuk memasak, dan lainnya. Ketika malam datang, kami menari-nari di sekeliling api unggun. Malam makin larut, kami menyiapkan diri untuk uji nyali. Uji nyali dilakukan berdua-berdua untuk kelas kecil, dan sendiri untuk kelas yang lebih besar. Menyeramkan sekaligus menyenangkan. Pada malam itu, track-nya keluar dari sekolah, dam melewati jalan setapak menuju Hutan Pinus. Tanpa diberi tahupun kami sudah tahu akan ada beberapa guru yang menakut-nakuti sepanjang jalan. Setelah melalui beberapa ‘hantu’, Akhirnya kami (aku berdua dengan seorang teman) sampai di persimpangan menuju Hutan Pinus. Tampak beberapa kelompok kecil dan seorang guru. Apa sih yang mereka tunggu? Begitu cetusku pada teman seperjalananku. Hutan Pinus terlihat sangat gelap, misterius, dan menyeramkan. Beberapa kelompok itu “tak punya nyali”, begitu kata temanku. Pak guru terus membujuk para murid yang mogok disitu. Tapi setiap ada kelompok yang berani maju, ada suara ‘hi-hi-hi-hiii’ yang datang entah dari mana. Kelompok yang maju tadi segera berbalik dan kembali. Selidik punya selidik, suara itu berasal dari handphone sang guru. Dan, setelah meninggalkan beberapa ancaman keji, semacam akan dikilikiti atau dikageti, kami melangkah bersama masuk ke Hutan Pinus. “Awas, nanti kubalas!”</p>

<p>Kami berjalan pelan memasuki Hutan Pinus. Terus mengedarkan pandangan. Cahaya yang menembus daun-daun jarum pinus membuat keadaan makin remang-remang, malah membuat uji nyali ini makin asyik. Ketika ada bunyi ‘krosak’ yang keras, langkah kami terhenti dan setiap orang meletakkan telunjuk di bibirnya. Bunyi apa itu tadi? Semua mata nyalang mengedarkan pandangan ke setiap pojok hutan pinus. Sampai akhirnya terlihat sosok putih meloncat-loncat keluar dari semak. Beberapa anak mendengus. Aku melongo. Inikah kejutan menakutkan yang dibicarakan semua murid ketika di sekolah tadi? Hanya segini? Sekali pandang aku langsung tahu itu seseorang yang mengenakan mukena yang dililitkan ke tubuh, seperti pocong. Tapi dari bentuk kepalanya aku langsung tahu kalau itu Pak Ganjar, penjaga sekolah!</p>

<p>Entah siapa yang memulai, kami semua berlari maju sambil mengambil buah pinus yang jatuh, ranting, dan apa saja yang ada. Lalu kami melempari si hantu, meninjunya, menarik jubahnya sambil tertawa dan berseru: “Ayo ngaku! Ini Pak Ganjar ‘kan?” Sampai akhirnya kami lelah dan pulang untuk menghangatkan diri ke sekolah.</p>

<p>“Permainan berburu harta karun” adalah permainan favorit anak perempuan. Kami menyusuri kolong-kolong kelas dan jika beruntung, kami bisa mendapatkan uang koin, manik-manik, kelereng, dan bahkan mata uang asing. Kalaupun tak ada manik-manik sama sekali, banyak hal menarik yang dapat kami temukan. Semisal sarang undur-undur raksasa.</p>

<p>Banyak permainan yang bisa kautemukan sendiri di alam, percayalah.</p>

<hr />

<p>Pemandangan kearah bukit dan hamparan sawah hijau dibawahnya, langit biru membentang di atasnya. Lantai kelas terbuat kayu dan jauh lebih enak dipijak daripada ubin. Saat menjelang sore, jangkrik dan tonggeret mulai berbunyi. Suara yang paling ingin kudengar sebelum aku kembali ke kota yang sesak dan berpolusi, serta penuh dengan monster yang bernama kendaraan bermotor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2012/04/sekolah-alam-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salingsapa.com antara Dukungan dan Kontroversi</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2011/08/salingsapa-com-antara-dukungan-dan-kontroversi/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2011/08/salingsapa-com-antara-dukungan-dan-kontroversi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 05:24:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=302</guid>
		<description><![CDATA[Siapa komunitas di sekolah alam yang tak kenal salingsapa.com?  Jawabannya besar kemungkinan hampir tak ada. Setidaknya untuk siswa yang sudah belajar komputer dan menggunakan internet mengenal bahwa itu merupakan jejaring sosial yang di&#8221;olah&#8221; oleh seorang siswa SMP Sekolah Alam Bandung bernama Muhammad Yahya. Tulisan ini terinspirasi saat saya coba cari situs salingsapa.com di google dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa komunitas di sekolah alam yang tak kenal salingsapa.com?  Jawabannya besar kemungkinan hampir tak ada. Setidaknya untuk siswa yang sudah belajar komputer dan menggunakan internet mengenal bahwa itu merupakan jejaring sosial yang di&#8221;olah&#8221; oleh seorang siswa SMP Sekolah Alam Bandung bernama Muhammad Yahya.</p>

<p>Tulisan ini terinspirasi saat saya coba cari situs salingsapa.com di google dan sekitar 1,370,000 hasil pencarian dalam 0.13 detik dan hasilnya cukup menarik, situs salingsapa.com memang banyak digemari terutama oleh anak-anak remaja.</p>

<p>Banyak tulisan menarik seputar karya anak SMP ini di internet, di bawah ini beberapa link diantaranya:</p>

<p><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;source=web&amp;cd=5&amp;ved=0CDcQFjAE&amp;url=http%3A%2F%2Findonesiaproud.wordpress.com%2F2011%2F02%2F08%2Fmuhammad-yahya-harlan-siswa-smp-pembuat-situs-ala-facebook-saling-sapa%2F&amp;rct=j&amp;q=saling%20sapa&amp;ei=GF9YTrTpG8rnrAeFj8nCCg&amp;usg=AFQjCNHCRjioXUMEz0Xx6SBobpRsDnJTtA&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;source=web&amp;cd=5&amp;ved=0CDcQFjAE&amp;url=http%3A%2F%2Findonesiaproud.wordpress.com%2F2011%2F02%2F08%2Fmuhammad-yahya-harlan-siswa-smp-pembuat-situs-ala-facebook-saling-sapa%2F&amp;rct=j&amp;q=saling%20sapa&amp;ei=GF9YTrTpG8rnrAeFj8nCCg&amp;usg=AFQjCNHCRjioXUMEz0Xx6SBobpRsDnJTtA&amp;cad=rja</a></p>

<p><a href="http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;source=web&amp;cd=11&amp;ved=0CFsQFjAK&amp;url=http%3A%2F%2Fhminews.com%2Fnews%2Fpendiri-saling-sapa-siswa-smp-beri-kuliah-umum-di-itb%2F&amp;rct=j&amp;q=saling%20sapa&amp;ei=GF9YTrTpG8rnrAeFj8nCCg&amp;usg=AFQjCNGE1bgnTrHQO1vz5Ur8yvWit92xIQ&amp;cad=rja">http://www.google.co.id/url?sa=t&amp;source=web&amp;cd=11&amp;ved=0CFsQFjAK&amp;url=http%3A%2F%2Fhminews.com%2Fnews%2Fpendiri-saling-sapa-siswa-smp-beri-kuliah-umum-di-itb%2F&amp;rct=j&amp;q=saling%20sapa&amp;ei=GF9YTrTpG8rnrAeFj8nCCg&amp;usg=AFQjCNGE1bgnTrHQO1vz5Ur8yvWit92xIQ&amp;cad=rja</a></p>

<p>http://www.witular.com/2011/02/salingsapacom-sarana-silaturahmi.html</p>

<p>Banyak dukungan dan anggapan positif yang diberikan akan tetapi ada juga pandangan yang berkesan meremehkan bahkan tuduhan penjiplakan (plagiator), dan ketidakpercayaan bahwa yang membuat situs tersebut adalah murni Yahya seorang. Belum lagi banyak yang kesulitan dalam mendaftar serta beberapa komentar yang menyatakan lebih sulit pengaturannya dan lain sebagainya.</p>

<p>Saya pribadi memang belum banyak mendalami salingsapa.com apalagi saya baru saja  mengaktifkan kembali akun facebook setelah lebih dari setahun absen karena berbagai pertimbangan. Dan saat ini saya selaku orang tua yang punya anak remaja yang dulunya satu kelas dengan Yahya (mungkin) hanya bisa mengijinkan anak saya untuk masuk situs <strong>salingsapa</strong> bukan <strong>facebook </strong>karena usianya belum genap 13 tahun serta pertimbangan sisi positif lebih sedikit dari sisi negatifnya (banyak terjadi hal buruk yang menimpa anak-anak remaja akibat facebook).</p>

<p>Ketinggalan zaman! kuno!over protektif! dan sederet anggapan buruk bisa saja mampir jika saya saat ini belum mengijinkan anak saya membuat akun facebook karena banyak sekali teman-temannya dan anak-anak lain dengan memanipulasi usia yang sudah masuk Facebook, tapi bagaimanapun saya tetap berpendapat untuk memberikan anak mendapatkan &#8220;kematangan sosial&#8221; terlebih dulu sebelum masuk jejaring sosial di dunia maya.</p>

<p>Salingsapa.com mungkin saja bisa jadi jalan keluar bagi anak-anak  usia 6 tahun ke atas yang ingin berkomunikasi lewat dunia maya karena mudah-mudahan lebih aman dan islami, itupun dengan catatan pengawasan ketat dari orang tua tetap diupayakan.</p>

<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2011/08/salingsapa-com-antara-dukungan-dan-kontroversi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ALAMAT SAB</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2011/06/alamat-sab/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2011/06/alamat-sab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jun 2011 02:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[FOSI]]></category>
		<category><![CDATA[Yayasan SAB]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Terkait perubahan Rt/Rw dan nama jalan alamat terbaru SAB adalah sbb: Jl. Dago Pojok Tanggulan Cikalapa II no 3 Rt 9 Rw 3 Kel Dago. Kec Coblong. Kota Bandung. Telp. 022 250 16 22 / 022 69793737 Atau bisa juga : Jl. Bukit Dago Utara I depan no 24 Admin yg bisa dihub : Eko&#8221;bayashi&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terkait perubahan Rt/Rw dan nama jalan  alamat terbaru SAB adalah sbb:</p>

<p>Jl. Dago Pojok Tanggulan Cikalapa II no 3 Rt 9 Rw 3
Kel Dago. Kec Coblong. Kota Bandung.
Telp. 022 250 16 22 / 022 69793737</p>

<p>Atau bisa juga : Jl. Bukit Dago Utara I depan no 24</p>

<p>Admin yg bisa dihub :
Eko&#8221;bayashi&#8221; Kurnianto W 
08157141395
ekokurnianto@sekolahalambandung.com</p>

<p>Peta :
<a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2011/06/peta-sab-JADI.jpg"><img src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2011/06/peta-sab-JADI-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-298" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2011/06/alamat-sab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar dan Workshop Pendidikan Sekolah Alam Bandung: Masalah Belajar dan Perilaku pada Anak</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2011/02/seminar-dan-workshop/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2011/02/seminar-dan-workshop/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 02:47:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[FOSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[FOSI Sekolah Alam Bandung akan menyelenggarakan kegiatan seminar dan workshop pada Ahad, 13 Februari 2011, sbb. Seminar &#8220;Masalah Belajar dan Perilaku pada Anak, Pengenalan dan Langkah Penanganan&#8221; direkomendasikan untuk orang tua, guru, dan umum. Waktu: 09 s.d. 12. Workshop &#8220;Memahami Karakteristik Gangguan Belajar dan Kesulitan Belajar&#8221; direkomendasikan untuk guru, pedagog, pihak sekolah, terapis, mahasiswa jurusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FOSI Sekolah Alam Bandung akan menyelenggarakan kegiatan seminar dan workshop pada Ahad, 13 Februari 2011, sbb.</p>

<ol>
<li>Seminar &#8220;Masalah Belajar dan Perilaku pada Anak, Pengenalan dan Langkah Penanganan&#8221; direkomendasikan untuk orang tua, guru, dan umum. Waktu: 09 s.d. 12.</li>
<li>Workshop &#8220;Memahami Karakteristik Gangguan Belajar dan Kesulitan Belajar&#8221; direkomendasikan untuk guru, pedagog, pihak sekolah, terapis, mahasiswa jurusan pendidikan, dan masyarakat umum yang berminat mempelajari lebih jauh tentang gangguan dan kesulitan belajar. Waktu: 13.30 s.d. 17.</li>
</ol>

<p>Pembicara: Adi D. Adinugroho-Hortsmann Ph.D.</p>

<p><span id="more-285"></span></p>

<p>Harga tiket:</p>

<ul>
<li>Seminar Rp 100.000/orang.</li>
<li>Workshop Rp 250.000/orang.</li>
</ul>

<p>Fasilitas:</p>

<ul>
<li>Snack.</li>
<li>Makan siang (untuk peserta workshop).</li>
<li>Seminar dan workshop kit.</li>
<li>Sertifikat.</li>
<li>Door prize.</li>
<li>Penitipan anak.</li>
</ul>

<p>Pendaftaran: Kantor Yayasan SAB, Mira (022 250 1622), Bu Ida (0813 2090 5791), Ety (0877 7991 4488)</p>

<p>Pembayaran: transfer rekening</p>

<ol>
<li>BCA KCU Dago, no. rek. 777 064 1947 a.n. Nurwahidah Yasin.</li>
<li>BNI Syariah no. rek. 1236 0548 03 a.n. Yayasan Sekolah Alam Bandung.</li>
</ol>

<p>Informasi lebih lengkap: <a href="http://seminarsab.wordpress.com/2011/01/26/seminar-workshop-pendidikan-sekolah-alam-bandung/">Seminar &amp; Workshop Pendidikan Sekolah Alam Bandung</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2011/02/seminar-dan-workshop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Susur Masjid , biar puasa semangat tetap pool !!</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/08/susur-masjid-biar-puasa-semangat-tetap-pool/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/08/susur-masjid-biar-puasa-semangat-tetap-pool/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 07:36:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[SUSUR MESJID- Sekolah Alam Bandung- oleh Aryo Budi Hutomo pada 14 Agustus 2010 jam 0:21 SUSUR MESJID &#8211; hari ini (jum&#8217;at -red) sekolah alam bandung mengadakan kegiatan susur mesjid, menapak tilasi perjuangan para pahlawan bangsa. kegiatan ini bertujuan untuk memupuk jiwa patriotik para siswa, serta mengingatkan sejarah bahwa bulan ramadhan merupakan bulan yang Allah jadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<h2>SUSUR MESJID- Sekolah Alam Bandung-</h2>
</div>
</div>
<div>
<div>oleh <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=766899236">Aryo Budi Hutomo</a> pada 14 Agustus 2010 jam 0:21</div>
</div>
</div>

<div>
<div>

SUSUR MESJID &#8211; hari ini (jum&#8217;at -red) sekolah alam bandung mengadakan  kegiatan susur mesjid, menapak tilasi perjuangan para pahlawan bangsa. kegiatan  ini bertujuan untuk memupuk jiwa patriotik para siswa, serta mengingatkan  sejarah bahwa bulan ramadhan merupakan bulan yang Allah jadikan momentum  pengukir sejarah bangsa.

Sejumlah siswa yang terdiri siswa kelas SD 4 hingga sekolah lanjutan  melakukan &#8220;city tracking&#8221;, berjalan dengan rute mesjid pusdai hingga mesjid raya  jawa barat di Jl.Asia Afrika. beberapa mesjid disinggahi dalam perjalanan ini,  dalam persinggahannya para peserta mendapat taujih dari pengurus mesjid setempat  dan menyempatkan diri bertilawah quran.

Di mesjid raya jabar, para siswa berbuka serta melaksanakan sholat maghrib  dan isya berjam&#8217;ah.

- biar puasa semangat tetep pool

<a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/08/susr-masjid1.bmp">
</a><a href='http://sekolahalambandung.com/2010/08/susur-masjid-biar-puasa-semangat-tetap-pool/susr-masjid2/' title='susr masjid2'><img src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/08/susr-masjid2.bmp" class="attachment-thumbnail" alt="susr masjid2" title="susr masjid2" /></a>
<a href='http://sekolahalambandung.com/2010/08/susur-masjid-biar-puasa-semangat-tetap-pool/susr-masjid1/' title='susr masjid1'><img src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/08/susr-masjid1.bmp" class="attachment-thumbnail" alt="susr masjid1" title="susr masjid1" /></a>




</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/08/susur-masjid-biar-puasa-semangat-tetap-pool/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Upin Ipin, RI dan Malaysia</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/08/antara-upin-ipin-ri-dan-malaysia/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/08/antara-upin-ipin-ri-dan-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 19:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Bila seseorang bilang “Malaysia” yang terbayang dibenak adalah film kartun “Upin Ipin”  yang saat ini sedang merajai per-film-an anak Indonesia. “Betul…. betul…. betul…” adalah salah satu kalimat yang paling akrab ditelinga anak Indonesia bahkan kalangan muda dan tua saat ini. Film kartun buatan Malaysia ini memang sangat digemari, anak saya yang baru berumur dua tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila seseorang bilang “Malaysia” yang terbayang dibenak adalah film  kartun “Upin Ipin”  yang saat ini sedang merajai per-film-an anak  Indonesia. “Betul…. betul…. betul…” adalah salah satu kalimat yang  paling akrab ditelinga anak Indonesia bahkan kalangan muda dan tua saat  ini.</p>

<p><a href="http://desioktoriana.files.wordpress.com/2010/08/screenshot_uni_4.jpg"><img src="http://desioktoriana.files.wordpress.com/2010/08/screenshot_uni_4.jpg?w=300&amp;h=243" alt="Upin  &amp; Ipin" width="300" height="243" /></a></p>

<p><img src="http://desioktoriana.wordpress.com/Users/SAAKIN%7E1/AppData/Local/Temp/moz-screenshot-2.png" alt="" /></p>

<p>Film kartun buatan Malaysia ini memang sangat digemari, anak saya  yang baru berumur dua tahun saja bila kebetulan sedang menyaksikan  tayangan “Upin Ipin” yang ditonton oleh kakaknya mau ikutan menyimak  tanyangan tersebut dengan cukup antusias.</p>

<p>Memang seakan-akan Film “Upin Ipin” ini menjadi gambaran yang pas  bagi kehidupan rakyat Malaysia yang hampir mirip dengan kehidupan rakyat  Indonesia. Kehangatan antar adik dan kakak, antar tetangga, antar teman  tergambar begitu jelas dan tulus.</p>

<p>Sayangnya kenyataan keeratan hubungan bangsa yang serumpun ini  berkata lain. Akhir-akhir ini media massa sering sekali menayangkan  perseteruan antar RI dan Malaysia dari berbagai permasalahan. Dari mulai  perseteruan penjiplakan budaya, perebutan batas wilayah sampai  perlakuan terhadap TKI oleh pemerintah Malaysia.</p>

<p>Saya berharap bahwa anak-anak kita cukuplah mengenal Malaysia seperti  tokoh-tokoh Upin dan Ipin yang polos, riang, tanpa beban, penuh dengan  kehangatan, penuh ungkapan unik yang menggelitik ditelinga. Upin dan  Ipin yang dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mereka seperti  kakak perempuan, opa dan Datuk serta kawan-kawan dari berbagai suku  bangsa (China, India, dll).</p>

<p>Yang sangat jelas tergambar dari Film “Upin Ipin” adalah kehidupan  keagamaan yang berdasarkan syariat Islam sangat kentara, seperti pada  judul film di bawah ini:</p>

<p>Upin &amp; Ipin (2007)
1. Esok puasa
2. Dugaan
3. Nikmat
4. Terawih
5. Esok Raya
6. Hari Raya</p>

<p>Upin &amp; Ipin: Setahun Kemudian (2008)
7. Tadika
8. Anak Bulan
9. Adat
10. Tamak
11. Lailatul Qadr
12. Kisah &amp; Tauladan
13. Sayang Kak Ros
14. Ketupat
15. Zakat Fitrah
16. Malam Syahdu
17. Pagi Raya
18. Berkat</p>

<p>Semoga Perseteruan RI dan Malaysia saat ini bukan(<strong> sengaja) </strong>dipicu oleh pihak-pihak yang hendak mengambil untung dari politik <em>“Devide et Impera”</em> antar sesama<em> Muslim</em> walaupun mustahil rasanya perseteruan tersebut terjadi tanpa ada pihak yang ingin <em>memancing di air keruh!</em>.  Bersatulah umat Muslim, eratkan tali persaudaraan, selamatkan anak-anak  kita dari kebodohan segelintir manusia yang merasa berkuasa.(<em>Dua Gajah bertarung: Pelanduk mati di tengah-tengah</em>).</p>

<p>Ditulis dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Indonesia; (17 Agustus 1945-2010)</p>

<p>Yang telah diperjuangkan dengan harta dan jiwa oleh umat Islam di seluruh Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/08/antara-upin-ipin-ri-dan-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sulitnya Mendapatkan Sekolah yang Baik Bagi Perkembangan Jiwa dan Akhlak Anak</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/07/sulitnya-mendapatkan-sekolah-yang-baik-bagi-perkembangan-jiwa-dan-akhlak-anak/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/07/sulitnya-mendapatkan-sekolah-yang-baik-bagi-perkembangan-jiwa-dan-akhlak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 17:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ajaran baru 2010/2011 sangat berat bagi saya sebagai orang tua yang harus memasukkan dua anak ke sekolah yang baru, ke dua sekolah yang berbeda jenjang sekaligus. Anak pertama masuk ke SMP dan anak ke dua ke SD. Banyak pertimbangan yang harus kami ambil untuk memutuskan dimana anak-anak akan bersekolah. Si sulung dengan berbagai pertimbangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG032-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-208" src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG032-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>

<p>Tahun ajaran baru 2010/2011 sangat berat bagi saya sebagai orang tua yang harus memasukkan dua anak ke sekolah yang baru, ke dua sekolah yang berbeda jenjang sekaligus. Anak pertama masuk ke SMP dan anak ke dua ke SD. Banyak pertimbangan yang harus kami ambil untuk memutuskan dimana anak-anak akan bersekolah.</p>

<p>Si sulung dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk disekolahkan ke SMP Negeri dan pada tanggal 7 Juli 2010 diterima di salah satu SMP Negeri di Bandung yang passing gradenya lebih dari 8. Kami sebagai orang tua berharap bahwa anak kami yang juga lulusan SD Sekolah Alam Bandung  (SAB) mendapat pendidikan di SMP Negeri tersebut setidak-tidaknya sama baiknya seperti di SAB.</p>

<p>Harapan tinggallah harapan, meskipun sekolah SMP tersebut jaraknya cukup dekat, tempatnya nyaman dan cukup luas serta bangunannya dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai, banyak hal yang menjadi sumber kekecewaan kami. Satu diantaranya pada saat pendaftaraan dimana seluruh siswa berkumpul dan diberi pengarahan untuk acara yang akan dilangsungkan pada hari Senin, 12 Juli 2010  (hari pertama masuk sekolah) siswa SMP tersebut diberi perintah untuk membawa barang sebagai berikut:</p>

<ol>
    <li>Ciki 3 taro 1</li>
    <li>Nasi piramida</li>
    <li>Permen<strong> jejak rasul</strong></li>
    <li>Minuman <strong>Munafik</strong></li>
    <li>Minuman<strong> Gokil
</strong></li>
    <li>Coklat ratu pantai selatan</li>
    <li>Coklat ratu perak</li>
    <li>Koin manis</li>
    <li>dll.</li>
</ol>

<p>Setelah ditelaah ternyata perintahnya diterjemahkan sebagai berikut:</p>

<ol>
    <li>Ciki 3 taro 1 = bawa ciki 2</li>
    <li>Nasi piramida = Nasi bacang</li>
    <li>Permen<strong> jejak rasul = permen kaki</strong></li>
    <li>Minuman<strong> Munafik  =  ???</strong></li>
    <li>Minuman<strong> Gokil = Fruit Tea  ( </strong>sesuai dengan iklannya<strong>)
</strong></li>
    <li>Coklat <strong>ratu pantai selatan</strong> =Coklat merek <strong>Suzanna </strong>(pemeran Film &#8220;Nyi Roro Kidul&#8221;)</li>
    <li>Coklat ratu perak = Coklat Silver Queen</li>
    <li>Koin manis = Coklat Koin</li>
    <li>dll.</li>
</ol>

<p>Bagi para orang tua siswa atau bahkan guru-guru di SMP tersebut membawa barang-barang di atas tidak ada hal yang mengherankan atau kurang wajar, karena memang di sekolah tersebut kebiasaan Masa Orientasi Siswa (MOS) sudah turun-temurun berpuluh tahun lamanya berlangsung. Tapi bagi kami sangat tidak terbiasa meberikan makanan ringan  berupa ciki karena memang di sekolah sebelumnya makanan tersebut masuk dalam kategori banyak<strong> zat aditif yang membahayakan </strong>sehingga dilarang untuk dibawa kesekolah.</p>

<p>Belum lagi perkara mengasosiasikan  <strong>JEJAK RASUL </strong>dengan permen kaki berwana merah terang dengan bungkus plastik biru tua bergambar <em>clown</em> (badut bermata lebar) sangat membuat hati kami tidak tenang. Apa maksud dari analogi tersebut? apakah hanya untuk lucu-lucuan?? Bagi kami ini seperti permainan dengan penghinaan terhadap agama Islam dan semoga hal tersebut dilakukan karena semata-mata kebodohan dan kekhilafan bukan unsur kesengajaan yang hendak meremehkan Islam.</p>

<p>Anak kami yang ke dua pun menghadapi berbagai masalah saat hendak masuk ke sekolah yang kami &#8220;harapkan&#8221; setidaknya lebih baik dengan pertimbangan jarak yang dekat serta biaya yang lebih murah. Dengan embel-embel SD SN (standar nasional) sekolah tersebut pada awalnya menjadi pilihan kami. Akan tetapi usut punya usut ternyata banyak praktik yang tidak sesuai di lapangan. Selain itu pula mengenai <strong>beban pelajaran</strong> yang<strong> sangat tinggi</strong> yang harus dihadapi anak kami kelak yang baru saja masuk kelas satu SD membuat kami berfikir ulang dan akhirnya kami putuskan untuk menyekolahkannya di SAB. Betul sekali bila ada salah seorang orang tua siswa yang berkata: &#8220;SAB bukanlah sekolah yang sempurna, akan tetapi anak saya suka bersekolah di SAB dan itu lebih dari cukup.&#8221;</p>

<p>Di SAB memang saya tidak menemukan istilah perpeloncoan bagi siswa baru, penanaman nilai keagamaan juga cukup baik walaupun masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Semoga beberapa tahun ke depan SAB yang sedang berbenah diri semakin baik dan mendapat pengakuan dari pemerintah. Karena bagaimanapun SAB adalah sekolah yang tengah berupaya untuk mencetak lulusan yang cerdas dan berakhlaqul karimah.</p>

<p>Apalagi saat ini di Jawa Barat saja  banyak anak-anak usia sekolah yang<strong> tidak tertampung </strong>di sekolah negeri maupun swasta yang jumlahnya mencapai lebih dari<strong> 428.000</strong> 0rang (sumber berita: Koran PR. Rabu,14 Juli 2010).</p>

<p>Data tersebut sangat ironis bila mengingat pemerintah Indonesia yang sedang mencanangkan pendidikan gratis bagi siswa SD dan SMP tapi tidak mampu untuk mengakomodir pendidikan bagi seluruh anak Indonesia. Akankah nasib pendidikan gratis di Indonesia bagai &#8220;Jauh Panggang Dari Api?&#8221; alih-alih memajukan pendidikan dan mencetak anak-anak bangsa yang bermartabat yang tercipta malah daftar panjang pengangguran.</p>

<p>Duhai negeriku &#8230;&#8230;. Begitu sulit engkau bangkit.</p>

<p>Duhai anakku&#8230;&#8230;. Begitu terjal jalan yang kan kau lalui, demi sebuah harga diri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/07/sulitnya-mendapatkan-sekolah-yang-baik-bagi-perkembangan-jiwa-dan-akhlak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolahnya Manusia</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/05/sekolahnya-manusia/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/05/sekolahnya-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 17:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan yang sungguh menarik yang seharusnya dapat disimak oleh kalangan pendidik, orang tua dan seluruh komponen masyarakat yang masih peduli dengan pendidikan di Indonesia. Bacaan lengkapnya dapat di lihat di link berikut: http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/24/surat-untuk-menteri-pendidikan-indonesia/ Ditulis oleh Bapak Munif Chatib mengenai sekolahnya manusianya dan apa saja yang seharusnya ada dan terjadi atau berlangsung dalam mendidik manusia. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_203" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG027-5.jpg"><img class="size-medium wp-image-203" src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG027-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Belajar di alam terbuka</p></div>

<p>Bacaan yang sungguh menarik yang seharusnya dapat disimak oleh kalangan pendidik, orang tua dan seluruh komponen masyarakat yang masih peduli dengan pendidikan di Indonesia.</p>

<p>Bacaan lengkapnya dapat di lihat di link berikut:</p>

<p><a href="http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/24/surat-untuk-menteri-pendidikan-indonesia/">http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/24/surat-untuk-menteri-pendidikan-indonesia/</a></p>

<p>Ditulis oleh Bapak Munif Chatib mengenai sekolahnya manusianya dan apa saja yang seharusnya ada dan terjadi atau berlangsung dalam mendidik manusia. Berikut ini adalah hasil copy-paste tulisan Pak Munif.</p>

<p><strong>SURAT UNTUK MENTERI PENDIDIKAN  INDONESIA </strong></p>

<p><strong>MENYELENGGARAKAN SEKOLAH MANUSIA</strong></p>

<p>Oleh: Munif Chatib</p>

<p><img src="http://munifchatib.files.wordpress.com/2009/10/munif.jpg?w=113&amp;h=170" alt="Munif" width="113" height="170" />KEBERHASILAN pendidikan Indonesia  secara makro sangat ditentukan oleh jutaan institusi mikro yang bernama  sekolah. Rangkaian jutaan sekolah itulah yang akan menentukan bangunan  kualitas pendidikan di negara tercinta ini. Singkatnya, apabila mikro  sekolah tersebut unggul, dapat dipastikan kualitas pendidikan, bahkan  sumber daya manusia, akan terdongkrak menjadi unggul pula.</p>

<p>Menurut penulis, akan lebih baik apabila  istilah ”sekolah unggul” diubah menjadi ”sekolah manusia”. Maklumlah,  kriteria unggul akan melahirkan banyak versi. Namun, istilah ”manusia”  tentu semua orang sepakat. Segala sisi hakikat manusia harus terwakili  dalam proses pendidikan manusia itu sendiri.</p>

<p>Indikator  sekolah manusia adalah:</p>

<p><em><strong>Character Building</strong></em></p>

<p>Manusia hakikatnya terdiri atas dua  dimensi. Dimensi jasmani dan rohani. Dua dimensi itu selayaknya harus  tersentuh proses pembelajaran dalam hidup manusia. Apabila porsi  pendidikan terhadap dua dimensi tersebut tidak seimbang, terutama minim  pada dimensi rohani, akan terjadi ”bencana akhlak”. Tidak ada lagi  makhluk yang bernama kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, saling  menghargai, dan lain-lain.</p>

<p>Character building (CB) adalah bidang  studi yang memenuhi kebutuhan rohani setiap manusia. Namun, sedikit  sekali sekolah yang menerapkan CB sebagai bidang studi. Yang ada, materi  akhlak menjadi satu dengan materi akidah dalam bidang studi agama.</p>

<p><em><strong>Agent of Change</strong></em></p>

<p>Sekolah mestinya menjadi agen perubahan.  Roh ini sepertinya sudah luntur. Bahkan, sudah merasuk ke paradigma  masyarakat bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang isinya adalah  siswa-siswa yang pandai dan baik-baik. Sekolah ”jeblok” adalah sekolah  yang isinya adalah siswa-siswa bodoh dan nakal-nakal atau anak buangan.</p>

<p>Sekolah yang favorit atau unggul  cenderung tidak menerima siswa-siswa yang bermasalah. Mereka lebih suka  berendam pada ”zona nyaman” yaitu the best input. Pada saat penulis  menerapkan sistem penerimaan siswa baru di sebuah sekolah tanpa tes  masuk, namun tergantung pada jumlah kursi yang tersedia, kepala  sekolahnya dengan tidak yakin bertanya, ”Bagaimana nanti kalau kita  dapat murid bodoh-bodoh dan nakal-nakal.”</p>

<p>Penulis menjawab, ”Bukan mestinya sebuah  sekolah dibangun untuk memintarkan anak yang bodoh dan membaikkan anak  yang nakal? Harus jadi agent of change!” Dengan menerapkan Multiple  Intelligence Research kepada setiap siswa pada setiap tahun, ternyata  tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa mempunyai kecenderungan  kecerdasan dan gaya belajar yang beragam dan harus dihargai.</p>

<p><em><strong>The Best Process</strong></em></p>

<p>Konsekuensi agent of change adalah  proses pembelajaran yang terjadi di sekolah itu harus terbaik.  Pembelajaran yang masuk memori jangka panjang siswanya dan tidak akan  lupa seumur hidup. Namun, kenyataannya, yang banyak adalah begitu guru  menyelesaikan jam pelajaran, maka hilang juga ilmu yang diajarkan.</p>

<p>Proses pembelajaran harus mengandung  kekuatan emosi positif. Mulai proses awal pembelajaran sampai akhir  benar-benar menyentuh perasaan siswa.</p>

<p><em><strong>The Best Teacher</strong></em></p>

<p>Konsekuensi the best process adalah the  best teacher. Kali ini kualitas guru yang dipertanyakan. Beberapa survei  menunjukkan kualitas guru di Indonesia masih belum dikatakan baik.</p>

<p>Guru yang baik berperan sebagai  fasilitator. Konsep ini sudah lama didengungkan dan dipraktikkan, namun  hanya ”awalnya” yang ”hangat”. Setelah itu, kembali kepada paradigma  lama, yaitu 80 persen waktu pembelajaran didominasi guru. Seharusnya,  persentase proses siswa belajar harus lebih besar daripada persentase  proses guru mengajar.</p>

<p>Guru yang baik berperan sebagai  katalisator, yaitu terus berusaha memantik kemampuan siswa, termasuk  bakatnya. Terutama kepada para siswa yang ”lamban” dalam menerima dan  memahami informasi. Bukan malah memihak kepada siswa yang ”pandai” saja.</p>

<p>Guru yang baik selalu berusaha  menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswanya. Apabila  proses teaching sytle dan learning style sesuai, akan muncul kondisi  sebenarnya tidak ada pelajaran yang sulit dan semua siswa mampu menerima  informasi dari guru.</p>

<p><em><strong>Applied Learning</strong></em></p>

<p>Konten pembelajaran mulai jenjang  sekolah dasar sampai seterusnya seharusnya dapat diaplikasikan dalam  kehidupan sehari-hari. Materi pembelajaran jangan sampai dijadikan  ”terpisah”, tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Minimal,  peserta didik memahami manfaat materi pembelajaran.</p>

<p>Yang banyak terjadi, banyak siswa tidak  mamahami untuk apa sebuah materi diajarkan oleh guru. Dalam sebuah  seminar guru yang dihadiri hampir 700 guru TK sampai SMA, penulis  bertanya tentang materi ”pohon faktor”, hampir semua guru dapat menjawab  semua soal, namun ketika ditanya untuk apa ”pohon faktor” itu, sebagian  besar mereka tidak tahu.</p>

<p><em><strong>Manajemen Sekolah</strong></em></p>

<p>Dalam sebuah pelatihan manajemen sekolah  yang khusus diikuti ratusan penyelenggara atau pemilik sekolah swasta  seluruh Indonesia pada 2007, dapat disimpulkan betapa kurangnya  pemahaman mereka terhadap manajemen sekolah yang baik. Padahal,  manajemen sekolah adalah manajemen pemberdayaan sumber manusia tingkat  tinggi, sangat kompleks, dan dibutuhkan orang-orang yang profesional  untuk mengelolanya.</p>

<p>Penulis sering menganalogikan manajemen  sekolah itu seperti seekor burung merpati putih yang mempunyai dua sayap  dan terbang ke sebuah tujuan sangkar kehidupan yang mulia. Sayap  pertama adalah context system, yaitu penyelenggara pendidikan, dan sayap  kedua adalah content system, yaitu kepala sekolah dan guru.</p>

<p>Mana mungkin merpati itu akan terbang  sampai tujuan apabila salah satu sayapnya patah dan tidak dapat bekerja  sama. Namun, alangkah cantiknya kalau kepakan sayapnya harmonis. Insya  Allah sekolah tersebut akan menjadi the best school dan membawa semua  siswanya ke sebuah tujuan yang menjadikan lulusannya manusia yang  mempunyai benefiditas dalam hidupnya. (*)</p>

<p>*). Munif Chatib, konsultan  pendidikan, penulis buku Sekolahnya Manusia</p>

<p>Jawa Pos, 22 Oktober 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/05/sekolahnya-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

