<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sekolah Alam Bandung &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://sekolahalambandung.com/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sekolahalambandung.com</link>
	<description>Sekolah Terindah dalam Hidupku</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Jul 2010 17:32:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sulitnya Mendapatkan Sekolah yang Baik Bagi Perkembangan Jiwa dan Akhlak Anak</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/07/sulitnya-mendapatkan-sekolah-yang-baik-bagi-perkembangan-jiwa-dan-akhlak-anak/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/07/sulitnya-mendapatkan-sekolah-yang-baik-bagi-perkembangan-jiwa-dan-akhlak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 17:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Ringan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[

Tahun ajaran baru 2010/2011 sangat berat bagi saya sebagai orang tua yang harus memasukkan dua anak ke sekolah yang baru, ke dua sekolah yang berbeda jenjang sekaligus. Anak pertama masuk ke SMP dan anak ke dua ke SD. Banyak pertimbangan yang harus kami ambil untuk memutuskan dimana anak-anak akan bersekolah.

Si sulung dengan berbagai pertimbangan akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG032-8.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-208" src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/07/IMG032-8-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>

<p>Tahun ajaran baru 2010/2011 sangat berat bagi saya sebagai orang tua yang harus memasukkan dua anak ke sekolah yang baru, ke dua sekolah yang berbeda jenjang sekaligus. Anak pertama masuk ke SMP dan anak ke dua ke SD. Banyak pertimbangan yang harus kami ambil untuk memutuskan dimana anak-anak akan bersekolah.</p>

<p>Si sulung dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk disekolahkan ke SMP Negeri dan pada tanggal 7 Juli 2010 diterima di salah satu SMP Negeri di Bandung yang passing gradenya lebih dari 8. Kami sebagai orang tua berharap bahwa anak kami yang juga lulusan SD Sekolah Alam Bandung  (SAB) mendapat pendidikan di SMP Negeri tersebut setidak-tidaknya sama baiknya seperti di SAB.</p>

<p>Harapan tinggallah harapan, meskipun sekolah SMP tersebut jaraknya cukup dekat, tempatnya nyaman dan cukup luas serta bangunannya dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai, banyak hal yang menjadi sumber kekecewaan kami. Satu diantaranya pada saat pendaftaraan dimana seluruh siswa berkumpul dan diberi pengarahan untuk acara yang akan dilangsungkan pada hari Senin, 12 Juli 2010  (hari pertama masuk sekolah) siswa SMP tersebut diberi perintah untuk membawa barang sebagai berikut:</p>

<ol>
    <li>Ciki 3 taro 1</li>
    <li>Nasi piramida</li>
    <li>Permen<strong> jejak rasul</strong></li>
    <li>Minuman <strong>Munafik</strong></li>
    <li>Minuman<strong> Gokil
</strong></li>
    <li>Coklat ratu pantai selatan</li>
    <li>Coklat ratu perak</li>
    <li>Koin manis</li>
    <li>dll.</li>
</ol>

<p>Setelah ditelaah ternyata perintahnya diterjemahkan sebagai berikut:</p>

<ol>
    <li>Ciki 3 taro 1 = bawa ciki 2</li>
    <li>Nasi piramida = Nasi bacang</li>
    <li>Permen<strong> jejak rasul = permen kaki</strong></li>
    <li>Minuman<strong> Munafik  =  ???</strong></li>
    <li>Minuman<strong> Gokil = Fruit Tea  ( </strong>sesuai dengan iklannya<strong>)
</strong></li>
    <li>Coklat <strong>ratu pantai selatan</strong> =Coklat merek <strong>Suzanna </strong>(pemeran Film &#8220;Nyi Roro Kidul&#8221;)</li>
    <li>Coklat ratu perak = Coklat Silver Queen</li>
    <li>Koin manis = Coklat Koin</li>
    <li>dll.</li>
</ol>

<p>Bagi para orang tua siswa atau bahkan guru-guru di SMP tersebut membawa barang-barang di atas tidak ada hal yang mengherankan atau kurang wajar, karena memang di sekolah tersebut kebiasaan Masa Orientasi Siswa (MOS) sudah turun-temurun berpuluh tahun lamanya berlangsung. Tapi bagi kami sangat tidak terbiasa meberikan makanan ringan  berupa ciki karena memang di sekolah sebelumnya makanan tersebut masuk dalam kategori banyak<strong> zat aditif yang membahayakan </strong>sehingga dilarang untuk dibawa kesekolah.</p>

<p>Belum lagi perkara mengasosiasikan  <strong>JEJAK RASUL </strong>dengan permen kaki berwana merah terang dengan bungkus plastik biru tua bergambar <em>clown</em> (badut bermata lebar) sangat membuat hati kami tidak tenang. Apa maksud dari analogi tersebut? apakah hanya untuk lucu-lucuan?? Bagi kami ini seperti permainan dengan penghinaan terhadap agama Islam dan semoga hal tersebut dilakukan karena semata-mata kebodohan dan kekhilafan bukan unsur kesengajaan yang hendak meremehkan Islam.</p>

<p>Anak kami yang ke dua pun menghadapi berbagai masalah saat hendak masuk ke sekolah yang kami &#8220;harapkan&#8221; setidaknya lebih baik dengan pertimbangan jarak yang dekat serta biaya yang lebih murah. Dengan embel-embel SD SN (standar nasional) sekolah tersebut pada awalnya menjadi pilihan kami. Akan tetapi usut punya usut ternyata banyak praktik yang tidak sesuai di lapangan. Selain itu pula mengenai <strong>beban pelajaran</strong> yang<strong> sangat tinggi</strong> yang harus dihadapi anak kami kelak yang baru saja masuk kelas satu SD membuat kami berfikir ulang dan akhirnya kami putuskan untuk menyekolahkannya di SAB. Betul sekali bila ada salah seorang orang tua siswa yang berkata: &#8220;SAB bukanlah sekolah yang sempurna, akan tetapi anak saya suka bersekolah di SAB dan itu lebih dari cukup.&#8221;</p>

<p>Di SAB memang saya tidak menemukan istilah perpeloncoan bagi siswa baru, penanaman nilai keagamaan juga cukup baik walaupun masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Semoga beberapa tahun ke depan SAB yang sedang berbenah diri semakin baik dan mendapat pengakuan dari pemerintah. Karena bagaimanapun SAB adalah sekolah yang tengah berupaya untuk mencetak lulusan yang cerdas dan berakhlaqul karimah.</p>

<p>Apalagi saat ini di Jawa Barat saja  banyak anak-anak usia sekolah yang<strong> tidak tertampung </strong>di sekolah negeri maupun swasta yang jumlahnya mencapai lebih dari<strong> 428.000</strong> 0rang (sumber berita: Koran PR. Rabu,14 Juli 2010).</p>

<p>Data tersebut sangat ironis bila mengingat pemerintah Indonesia yang sedang mencanangkan pendidikan gratis bagi siswa SD dan SMP tapi tidak mampu untuk mengakomodir pendidikan bagi seluruh anak Indonesia. Akankah nasib pendidikan gratis di Indonesia bagai &#8220;Jauh Panggang Dari Api?&#8221; alih-alih memajukan pendidikan dan mencetak anak-anak bangsa yang bermartabat yang tercipta malah daftar panjang pengangguran.</p>

<p>Duhai negeriku &#8230;&#8230;. Begitu sulit engkau bangkit.</p>

<p>Duhai anakku&#8230;&#8230;. Begitu terjal jalan yang kan kau lalui, demi sebuah harga diri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/07/sulitnya-mendapatkan-sekolah-yang-baik-bagi-perkembangan-jiwa-dan-akhlak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolahnya Manusia</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/05/sekolahnya-manusia/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/05/sekolahnya-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 17:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita dan Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan yang sungguh menarik yang seharusnya dapat disimak oleh kalangan pendidik, orang tua dan seluruh komponen masyarakat yang masih peduli dengan pendidikan di Indonesia.

Bacaan lengkapnya dapat di lihat di link berikut:

http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/24/surat-untuk-menteri-pendidikan-indonesia/

Ditulis oleh Bapak Munif Chatib mengenai sekolahnya manusianya dan apa saja yang seharusnya ada dan terjadi atau berlangsung dalam mendidik manusia. Berikut ini adalah hasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_203" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG027-5.jpg"><img class="size-medium wp-image-203" src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/05/IMG027-5-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Belajar di alam terbuka</p></div>

<p>Bacaan yang sungguh menarik yang seharusnya dapat disimak oleh kalangan pendidik, orang tua dan seluruh komponen masyarakat yang masih peduli dengan pendidikan di Indonesia.</p>

<p>Bacaan lengkapnya dapat di lihat di link berikut:</p>

<p><a href="http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/24/surat-untuk-menteri-pendidikan-indonesia/">http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/24/surat-untuk-menteri-pendidikan-indonesia/</a></p>

<p>Ditulis oleh Bapak Munif Chatib mengenai sekolahnya manusianya dan apa saja yang seharusnya ada dan terjadi atau berlangsung dalam mendidik manusia. Berikut ini adalah hasil copy-paste tulisan Pak Munif.</p>

<p><strong>SURAT UNTUK MENTERI PENDIDIKAN  INDONESIA </strong></p>

<p><strong>MENYELENGGARAKAN SEKOLAH MANUSIA</strong></p>

<p>Oleh: Munif Chatib</p>

<p><img src="http://munifchatib.files.wordpress.com/2009/10/munif.jpg?w=113&amp;h=170" alt="Munif" width="113" height="170" />KEBERHASILAN pendidikan Indonesia  secara makro sangat ditentukan oleh jutaan institusi mikro yang bernama  sekolah. Rangkaian jutaan sekolah itulah yang akan menentukan bangunan  kualitas pendidikan di negara tercinta ini. Singkatnya, apabila mikro  sekolah tersebut unggul, dapat dipastikan kualitas pendidikan, bahkan  sumber daya manusia, akan terdongkrak menjadi unggul pula.</p>

<p>Menurut penulis, akan lebih baik apabila  istilah ”sekolah unggul” diubah menjadi ”sekolah manusia”. Maklumlah,  kriteria unggul akan melahirkan banyak versi. Namun, istilah ”manusia”  tentu semua orang sepakat. Segala sisi hakikat manusia harus terwakili  dalam proses pendidikan manusia itu sendiri.</p>

<p>Indikator  sekolah manusia adalah:</p>

<p><em><strong>Character Building</strong></em></p>

<p>Manusia hakikatnya terdiri atas dua  dimensi. Dimensi jasmani dan rohani. Dua dimensi itu selayaknya harus  tersentuh proses pembelajaran dalam hidup manusia. Apabila porsi  pendidikan terhadap dua dimensi tersebut tidak seimbang, terutama minim  pada dimensi rohani, akan terjadi ”bencana akhlak”. Tidak ada lagi  makhluk yang bernama kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, saling  menghargai, dan lain-lain.</p>

<p>Character building (CB) adalah bidang  studi yang memenuhi kebutuhan rohani setiap manusia. Namun, sedikit  sekali sekolah yang menerapkan CB sebagai bidang studi. Yang ada, materi  akhlak menjadi satu dengan materi akidah dalam bidang studi agama.</p>

<p><em><strong>Agent of Change</strong></em></p>

<p>Sekolah mestinya menjadi agen perubahan.  Roh ini sepertinya sudah luntur. Bahkan, sudah merasuk ke paradigma  masyarakat bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang isinya adalah  siswa-siswa yang pandai dan baik-baik. Sekolah ”jeblok” adalah sekolah  yang isinya adalah siswa-siswa bodoh dan nakal-nakal atau anak buangan.</p>

<p>Sekolah yang favorit atau unggul  cenderung tidak menerima siswa-siswa yang bermasalah. Mereka lebih suka  berendam pada ”zona nyaman” yaitu the best input. Pada saat penulis  menerapkan sistem penerimaan siswa baru di sebuah sekolah tanpa tes  masuk, namun tergantung pada jumlah kursi yang tersedia, kepala  sekolahnya dengan tidak yakin bertanya, ”Bagaimana nanti kalau kita  dapat murid bodoh-bodoh dan nakal-nakal.”</p>

<p>Penulis menjawab, ”Bukan mestinya sebuah  sekolah dibangun untuk memintarkan anak yang bodoh dan membaikkan anak  yang nakal? Harus jadi agent of change!” Dengan menerapkan Multiple  Intelligence Research kepada setiap siswa pada setiap tahun, ternyata  tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa mempunyai kecenderungan  kecerdasan dan gaya belajar yang beragam dan harus dihargai.</p>

<p><em><strong>The Best Process</strong></em></p>

<p>Konsekuensi agent of change adalah  proses pembelajaran yang terjadi di sekolah itu harus terbaik.  Pembelajaran yang masuk memori jangka panjang siswanya dan tidak akan  lupa seumur hidup. Namun, kenyataannya, yang banyak adalah begitu guru  menyelesaikan jam pelajaran, maka hilang juga ilmu yang diajarkan.</p>

<p>Proses pembelajaran harus mengandung  kekuatan emosi positif. Mulai proses awal pembelajaran sampai akhir  benar-benar menyentuh perasaan siswa.</p>

<p><em><strong>The Best Teacher</strong></em></p>

<p>Konsekuensi the best process adalah the  best teacher. Kali ini kualitas guru yang dipertanyakan. Beberapa survei  menunjukkan kualitas guru di Indonesia masih belum dikatakan baik.</p>

<p>Guru yang baik berperan sebagai  fasilitator. Konsep ini sudah lama didengungkan dan dipraktikkan, namun  hanya ”awalnya” yang ”hangat”. Setelah itu, kembali kepada paradigma  lama, yaitu 80 persen waktu pembelajaran didominasi guru. Seharusnya,  persentase proses siswa belajar harus lebih besar daripada persentase  proses guru mengajar.</p>

<p>Guru yang baik berperan sebagai  katalisator, yaitu terus berusaha memantik kemampuan siswa, termasuk  bakatnya. Terutama kepada para siswa yang ”lamban” dalam menerima dan  memahami informasi. Bukan malah memihak kepada siswa yang ”pandai” saja.</p>

<p>Guru yang baik selalu berusaha  menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswanya. Apabila  proses teaching sytle dan learning style sesuai, akan muncul kondisi  sebenarnya tidak ada pelajaran yang sulit dan semua siswa mampu menerima  informasi dari guru.</p>

<p><em><strong>Applied Learning</strong></em></p>

<p>Konten pembelajaran mulai jenjang  sekolah dasar sampai seterusnya seharusnya dapat diaplikasikan dalam  kehidupan sehari-hari. Materi pembelajaran jangan sampai dijadikan  ”terpisah”, tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Minimal,  peserta didik memahami manfaat materi pembelajaran.</p>

<p>Yang banyak terjadi, banyak siswa tidak  mamahami untuk apa sebuah materi diajarkan oleh guru. Dalam sebuah  seminar guru yang dihadiri hampir 700 guru TK sampai SMA, penulis  bertanya tentang materi ”pohon faktor”, hampir semua guru dapat menjawab  semua soal, namun ketika ditanya untuk apa ”pohon faktor” itu, sebagian  besar mereka tidak tahu.</p>

<p><em><strong>Manajemen Sekolah</strong></em></p>

<p>Dalam sebuah pelatihan manajemen sekolah  yang khusus diikuti ratusan penyelenggara atau pemilik sekolah swasta  seluruh Indonesia pada 2007, dapat disimpulkan betapa kurangnya  pemahaman mereka terhadap manajemen sekolah yang baik. Padahal,  manajemen sekolah adalah manajemen pemberdayaan sumber manusia tingkat  tinggi, sangat kompleks, dan dibutuhkan orang-orang yang profesional  untuk mengelolanya.</p>

<p>Penulis sering menganalogikan manajemen  sekolah itu seperti seekor burung merpati putih yang mempunyai dua sayap  dan terbang ke sebuah tujuan sangkar kehidupan yang mulia. Sayap  pertama adalah context system, yaitu penyelenggara pendidikan, dan sayap  kedua adalah content system, yaitu kepala sekolah dan guru.</p>

<p>Mana mungkin merpati itu akan terbang  sampai tujuan apabila salah satu sayapnya patah dan tidak dapat bekerja  sama. Namun, alangkah cantiknya kalau kepakan sayapnya harmonis. Insya  Allah sekolah tersebut akan menjadi the best school dan membawa semua  siswanya ke sebuah tujuan yang menjadikan lulusannya manusia yang  mempunyai benefiditas dalam hidupnya. (*)</p>

<p>*). Munif Chatib, konsultan  pendidikan, penulis buku Sekolahnya Manusia</p>

<p>Jawa Pos, 22 Oktober 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/05/sekolahnya-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UNTUK BUMI</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/04/untuk-bumi/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/04/untuk-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 04:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Aksi simpatik &#8216;Selamatkan Bumi&#8217; . Siswa-siswa dari Sekolah Alam Bandung (SAB) melakukan aksi simpatik dengan menyusuri Sungai Cikapundung, Kamis (22/4/2010). Aksi susur sungai Cikapundung untuk  membuang sampah sepanjang perjalanan mereka. Aksi ini dimulai dengan menanam pohon di lokasi sekolah alam dan di akhiri dengan kampanye hari bumi dengan membagikan selebaran untuk menjaga bumi dari kerusakan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aksi simpatik &#8216;Selamatkan Bumi&#8217; . Siswa-siswa dari Sekolah Alam Bandung (SAB) melakukan aksi simpatik dengan menyusuri Sungai Cikapundung, Kamis (22/4/2010). Aksi susur sungai Cikapundung untuk  membuang sampah sepanjang perjalanan mereka. Aksi ini dimulai dengan menanam pohon di lokasi sekolah alam dan di akhiri dengan kampanye hari bumi dengan membagikan selebaran untuk menjaga bumi dari kerusakan, pemanasan global dan pencemaran lingkungan.</p>


<a href='http://sekolahalambandung.com/2010/04/untuk-bumi/sab02/' title='SAB02'><img width="150" height="150" src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/04/SAB02-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="SAB02" /></a>
<a href='http://sekolahalambandung.com/2010/04/untuk-bumi/sab-insert/' title='sab-insert'><img width="150" height="150" src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/04/sab-insert-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="sab-insert" /></a>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/04/untuk-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Turun Gunung, Tak sekedar Outbound</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/04/turun-gunung-tak-sekedar-outbound/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/04/turun-gunung-tak-sekedar-outbound/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 11:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[ 

Turun Gunung ke sungai di Hulu. Dari Sekolah Alam Bandung menuju Sekolah Alam Bengkulu.

Pada tanggal 8 &#8211; 11 April 2010 Sekolah Alam Bandung mengirimkan guru terbaik dalam bidang Outbound untuk membantu Sekolah Alam Bengkulu menset up kurikulum Outbound. Outbound bukan sekedar flying fox atau menyeberangi jembatan tali. Lebih dari itu Outbound di Sekolah Alam membawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>

<p><a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0053aaa.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-184" src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/04/CIMG0053aaa-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Turun Gunung ke sungai di Hulu. Dari Sekolah Alam Bandung menuju Sekolah Alam Bengkulu.</p>

<p>Pada tanggal 8 &#8211; 11 April 2010 Sekolah Alam Bandung mengirimkan guru terbaik dalam bidang Outbound untuk membantu Sekolah Alam Bengkulu menset up kurikulum Outbound. Outbound bukan sekedar flying fox atau menyeberangi jembatan tali. Lebih dari itu Outbound di Sekolah Alam membawa misi membangun karakter tangguh, mandiri, dan bekerja sama dan prinsip-prinsip manajemen lainnya untuk mengelola Alam Semesta secara harmonis menuntaskan misi di dunia sebagai Rahmat Lil &#8216;alamin. Inilah Outbound Sekolah Alam Bandung.<span id="more-182"></span></p>

<p>Bismillahirrohmaanirrohim</p>

<p>Dalil-dalil yang digunakan dalam penyusunan kurikulum Outboundward Sekolah Alam Bandung :</p>

<ol>
<li>Dan (ingatlah) ketika Luqman (al-Hakim) berkata kepada anaknya, saat ia memberi pelajaran kepadanya: “Janganlah kau sekutukan Allah, sesungguhnya syirik kepada Allah adalah kezaliman yang besar”. (QS.31:13).</li>
</ol>

<p>2 .Janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali….(QS.16:92)</p>

<ol>
<li>Kisah pembinaan Musa as oleh Khidr dalam Al-Kahfi (QS.18: 60-82).</li>
</ol>

<p>Hadits Rosululloh SAW :</p>

<ol>
<li><p>Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitroh seperti kertas putih tanpa tulisan, org tuanyalah yg menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.</p></li>
<li><p>Jika anakmu telah berumur dua tahun sapihlah dia (ajarkan mandiri)</p></li>
<li><p>Pisahkanlah kamar anak laki-laki dan perempuan</p></li>
<li><p>Rasullulloh SAW menegur seorang ibu yang menarik dengan kasar anaknya yang pipis dipangkuan Rasul SAW</p></li>
<li><p>Ajari anak-anakmu tiga hal : Berkuda-memanah/melontar-berenang.</p></li>
<li><p>Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.</p></li>
<li><p>Ketika Rasullulloh SAW sedang sujud dalam sholatnya salah seorang cucunya menaiki kepalanya sehingga beliau memperlama sujudnya sampai cucunyanya turun dari nya</p></li>
<li><p>Ajarilah anakmu sholat pada umur 7 tahun, dan jika pada umur 10 tahun belum mau sholat pukullah dia.</p></li>
<li><p>Berkata ibnu mubarok : keimanan sesorang itu seperti burung yang terbang dengan dua sayap harapan dan takut kepada alloh SWT dan diarahkan oleh kepalanya yang merupakan kecintaan kepada-NYA.</p></li>
</ol>

<p>Ilmu pendidikan Modern</p>

<p>Taxonomi Bloom</p>

<p>Bloom (1956) merumuskan tingkatan kondisi seseorang dalam menerima suatu pelajaran yang didasarkan pada kompleksitas proses berpikir :</p>

<p>1 Knowledge : pada level ini sisiwa hanya mengingat peristiwa yang erjadi dan menceritakan apa-apa yang terjadi hanya sebagai fakta. (mendapat persepsi)</p>

<p>2 Comperehension : siswa menginterpretasikan apa yang terjadi.</p>

<p>3 Application : siswa melakukan penerapan secara sederhana apa-apa yang dipelajarinya.</p>

<p>4 Analysis : siswa memecah-mecah hal-hal yang dialami dalam berbagai komponen dalam melihat keterkaitan satu dengan yang lainnya.</p>

<p>5 Synthesis : siswa menggabungka persepsi-persepsi yang ada dikepalanya untuk memecahkan masalah yang dihadapi.</p>

<p>6 Evaluation : siswa mengevaluasi manfaat persepsi yang didapatnya dalam memecahkan masalah.</p>

<p>MATERI</p>

<p>Grade F: Fun game :</p>

<p>Teaching point materi2 ini adalah mengenalkan siswa dengan program outbound</p>

<p>Sedapat mungkin dihindari bentuk pos yang bisa membuat siswa takut/trauma</p>

<p>Diutamakan agar siswa senang mengikuti prog OB dimasa mendatang</p>

<p>Grade E: Exciting game</p>

<p>Siswa dikenalkan dengan materi-materi yang lebih menantang, memerlukan pengamanan extra</p>

<p>Grade D : Dare Game</p>

<p>Materi-materi adventure oudbound</p>

<p>Tahap akhir sebelum diperkenalkan kepada grade yang mengharuskan siswa menggunakan segenap kemampuan pikiran, perasaan dan kekuatan fisiknya</p>

<p>Grade C : Cheer up Game</p>

<p>Siswa menyenangi program-program yang telah di jalankan, mereka telah dapat menggunakan nalarnya</p>

<p>Grade B : Brotherhood game</p>

<p>Bentuk game yang mengarah kepada melatih kekompakan dengan pihak lain, empati.</p>

<p>Grade A : Activist Game</p>

<p>Team building</p>

<p>Siswa Melihat bahwa individu lain sebagai bagian dari sukses dirinya.</p>

<p>Siswa mampu memotivasi pihak lain agar sama-sama saling bekerjasama untuk meraih sukses</p>

<p>I. Intrapersonal skill</p>

<p>Bentuk materi OB yang bertujuan untuk menumbuhkan skill individu, dengan sasaran melatih akal, pikiran dan kekuatan fisiknya</p>

<p>II. Interpersonal skill</p>

<p>Menumbuhkan kerjasama dengan pihak lain</p>

<p>III. Extrapersonal Skill</p>

<p>Melatih team building, yang menuntut perencanaan yang matang</p>

<p>Black : Active</p>

<p>Red : Pasive</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/04/turun-gunung-tak-sekedar-outbound/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Budaya</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/04/ekspedisi-budaya/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/04/ekspedisi-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Apr 2010 05:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[
Pada Bulan Maret 2010 kelas 4 mengadakan field trip ke Kota Yogyakarta. Eskpedisi Tour de Java pertama untuk mengeksplorasi kekayaan budaya. Naik kereta, malioboro, masuem kolong tangga, kerajinan batik karebet , borobudir dan tentunya menu wajib ke Jogja naik becak dan dokar.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/04/borobudur.jpg"><img src="http://sekolahalambandung.com/wp-content/uploads/2010/04/borobudur-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" class="aligncenter size-medium wp-image-177" /></a>
Pada Bulan Maret 2010 kelas 4 mengadakan field trip ke Kota Yogyakarta. Eskpedisi Tour de Java pertama untuk mengeksplorasi kekayaan budaya. Naik kereta, malioboro, masuem kolong tangga, kerajinan batik karebet , borobudir dan tentunya menu wajib ke Jogja naik becak dan dokar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/04/ekspedisi-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Akrab dengan Lendo Novo</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2010/01/lebih-akrab-dengan-lendo-novo/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2010/01/lebih-akrab-dengan-lendo-novo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 03:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eko Kurnianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Mengenal sekolah alam tak lengkap rasanya tanpa mengenal para tokohnya. Para tokoh itu bisa banyak pihak – mereka adalah siswa, guru, orang tua, dan orang-orang yang tak dikenal namun memberi kontribusi besar bagi sejarah perjalanan sekolah alam. Lendo Novo sang penggagas sekolah alam selayaknya menjadi tokoh pertama yang akan kita kenal. Dari Lendo pertama kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengenal sekolah alam tak lengkap rasanya tanpa mengenal para tokohnya. Para tokoh itu bisa banyak pihak – mereka adalah siswa, guru, orang tua, dan orang-orang yang tak dikenal namun memberi kontribusi besar bagi sejarah perjalanan sekolah alam. Lendo Novo sang penggagas sekolah alam selayaknya menjadi tokoh pertama yang akan kita kenal. Dari Lendo pertama kali muncul ide sekolah alam yang memberi pencerahan dalam kusutnya pendidikan dengan konsep Sekolah Alam. Konsep ini bahkan bukan saja berimbas pada pendidikan namun kemudian menjadi berkembang dalam lingkup Lingkungan Hidup dan Enterpreneurships.<span id="more-167"></span></p>

<p>Mungkin selama ini Lendo Novo lebih dikenal sebagai mantan staf ahli Menteri Negara BUMN Sugiharto ketimbang sebagai “sang brilian penggagas sekolah alam”. Ia sempat dijuluki “orang yang paling ditakuti” oleh para direksi BUMN. Perannya dalam membersihkan BUMN dari para koruptor telah menyebarkan ketakutan di kalangan para pejabat BUMN yang merasa dirinya “kurang bersih.” Lendo seorang yang cerdas, idealis, baik, ramah, “eksentrik”, pantang menyerah, dan memiliki “seabrek” sifat baik lainnya – begitu kesan yang akan kita dapatkan jika sedang bersama beliau. Sosok visioner ini kini juga sedang menyiapkan Life Institute dan Maestro University, sekolah bisnis setingkat perguruan tinggi.</p>

<p>Ir. Lendo Novo, alumni Teknik Peminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB), angkatan 1983. “Bang Lendo,” demikian sering dipanggil orang, pernah mengajar di ITB sebagai dosen Teknik Perminyakan pada tahun 1988 sampai 1989, dan mengikuti kuliah pasca sarjana di Resource Energy Management, Geofisika Terapan ITB, pada tahun 1989.</p>

<p>Sewaktu kecil ia sering dihukum guru karena terlalu banyak bertanya. Dia mengaku bahwa duduk diam di kelas adalah siksaan, sehingga dari usia belia ia bercita-cita membuat suatu sekolah yang muridnya kelak dapat menikmati saat-saat belajar mereka.</p>

<p>Cita-cita dan idenya terus bermunculan saat berada di balik jeruji besi. Dipenjara tujuh bulan pada masa Orde Baru mematangkan gagasan sekolah alam. Dia pun bermimpi mendirikan sekolah yang tak hanya mendidik orang pintar dan bergelar tinggi, namun juga berbudi luhur dan berguna bagi bangsa dan agama. Lendo dipenjara dengan tudingan sebagai tokoh mahasiswa penggerak unjuk rasa saat kunjungan Menteri Dalam Negeri (alm.) Rudini di Institut Teknologi Bandung.</p>

<p>Tidak lama setelah keluar dari penjara, cita-citanya terwujud dengan pendirian TK Salman di Bukit Awi Legar, Bandung, yang bertempat di salah satu rumah milik penduduk. Berbasis alam dan tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. “Ini cikal bakal TK Islam terpadu,” katanya. TK itu dinamai demikian, karena diinspirasi nama Masjid Salman, masjid kampus ITB, tempat Lendo menempuh pendidikan S1 dan S2.</p>

<p>Beberapa pihak, termasuk Ibu Sudharmono, istri wakil presiden kala itu menganggap Lendo tidak mengerti konsep pendidikan dengan alasan ia tidak berlatar belakang pendidikan guru. Namun Lendo pantang mundur. Kecaman itu tidak ditanggapinya serius, ia justru mengundang mereka yang mengkritiknya untuk melihat secara langsung proses pembelajaran di sekolahnya tsb. “Kalau anak TK harus duduk diam dan melipat tangannya selama belajar, mungkin waktu sepuluh menit bagi mereka sangat lama, tapi kalau kegiatan belajar mereka menyenangkan, mereka akan menikmati belajar itu walau berjam-jam,” ujar ayah dari Bariah, Khalid, Hamzah, Dhia, dan Omar ini penuh keyakinan.</p>

<p>Mulai tahun 1992 itu pula, Lendo terus menggodok konsep sekolah yang diimpikannya, hingga lima tahun kemudian, tahun 1997, muncullah kesempatan membuka sekolah alamnya yang pertama, yakni Sekolah Alam Ciganjur, di Jakarta Selatan.</p>

<p>Di sekolah alam ini dikembangkan suatu sistem pendidikan tempat siswa dari umur pra-sekolah belajar berinteraksi langsung dengan alam sebagai media belajar mereka setiap harinya. Mereka belajar mengamati, bertanya, mengumpulkan data, membuat hipotesis, dan menguji hipotesis mereka. Dengan cara belajar yang aktif dan kreatif ini, anak-anak belajar mandiri dan menjadi akrab dengan lingkungannya.</p>

<p>Lewat sekolah alam, Lendo dianugerahi Ashoka Award pada tahun 2003 oleh sebuah lembaga humanitas international yang berpusat di Amerika Serikat. Anugerah ini merupakan pengakuan dan penghargaan atas kegiatan Lendo Novo di bidang wirausaha sosial dengan gagasan baru, keahlian, dan visi implementasi pembaruan sosial yang luas di bidang kepedulian sosial. Pada tahun 2009, Lendo mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas jasanya dalam mengembangkan konsep baru pendidikan yang berwawasan lingkungan. Penghargaan tertinggi karena keberpihakannya terhadap penyelamatan masa depan lingkungan melalui pendidikan.</p>

<p>Secara khusus Lendo berharap sekolah alam memberi sumbangan bagi pendidikan di Indonesia. Bahkan Lendo mengatakan, sekolah alam tidak hanya disumbangkan bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia, dan diharapkan dapat mengatasi persoalan pemanasan global. Karena dari sekolah alam akan banyak duta lingkungan yang lahir dari sekolah, yang dapat memperjuangkan kelestarian alam Indonesia. “Kalau dari kecil anak sudah terbiasa hidup di alam hijau dan ditanamkan semangat mencintai lingkungan, maka begitu besar ia tidak akan melakukan penebangan pohon,” demikian keyakinannya.</p>

<p>Kini setelah 20 tahun berselang, banyak masyarakat yang mengembangkan model sekolah alam. Di penjuru Nusantara hingga kini telah ada puluhan buah sekolah alam. Lendo berharap sekolah alam kelak ada di semua provinsi di Indonesia, sehingga bisa menjadi contoh positif dan dapat mempengaruhi pendidikan.</p>

<p><em> </em><em>Ditulis dari, oleh salah satu muridnya: Eko Kurnianto W berbagai sumber dan pergaulan bersama beliau</em></p>

<p><em> </em><em>Saya berkenalan dengan Bang Lendo pada tahun 1999, pada masa reformasi terjadi. Di sela jeda demo masif kala itu, Bang Lendo berhasil memikat dan meyakinkan saya untuk keluar dari Lab Aerodinamika PPAU IR ITB dan bersamanya mewujudkan cita-cita luhurnya di sekolah alam.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2010/01/lebih-akrab-dengan-lendo-novo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menyikapi Ujian Nasional 2010? (lanjutan)</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2009/11/bagaimana-menyikapi-ujian-nasional-2010-lanjutan/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2009/11/bagaimana-menyikapi-ujian-nasional-2010-lanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 03:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Ada tulisan yang sangat menarik dari pak Munif Chatib (pengarang buku: Sekolahnya Manusia) yang bisa kita simak mengenai Ujian Nasional (UN):

(From: Arifah Handayani)

Pak Munif Menulis Tentang Sebab UN perlu Ditolak.

Waktu Pak Munif bilang 10 juta Facebooker perlu tolak UN.. Maka spontan saya bikin Group 10 Juta Facebooker Tolak UN.. Ga nyangka seorang Trainer dan penulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada tulisan yang sangat menarik dari pak Munif Chatib (pengarang buku: Sekolahnya Manusia) yang bisa kita simak mengenai Ujian Nasional (UN):</p>

<p>(From: Arifah Handayani)</p>

<p><strong>Pak Munif Menulis Tentang Sebab UN perlu Ditolak.</strong></p>

<p>Waktu Pak Munif bilang 10 juta Facebooker perlu tolak UN.. Maka spontan saya bikin Group 10 Juta Facebooker Tolak UN.. Ga nyangka seorang Trainer dan penulis buku Pak Amir Faisal merasa perlu menegur saya.</p>

<p>Amir Faisal:</p>

<p>UN membuat anak terdorong belajar dengan sungguh-sungguh, mau dimotivasi, mau diajak istighasah, bahkan anak laki-laki saya jadi rajin sholat dan jadi birrul walidain, karena kekuatirannya tidak lulus saya manipulasi secara cerdas .</p>

<p><span id="more-150"></span></p>

<p>Kompetensi yang distandarkan di UN lah yang harus disesuaikan kebutuhan dan output yang dikehendaki dengan memperhatikan regionisasi sesuai dengan semangat KTSP.</p>

<p>Standarisasi mutlak diperlukan dalam rangka menghadapi dunia global. Masalahnya dari ke 8 standar pendidikan menurut PP 19/2005 lebih ditekankan pada STANDAR EVALUASIi. Ibaratnya membawa motor China ke bengkel Ahass minta untuk diperbaiki ??!</p>

<p>Pengalaman saya mentraining ribuan Guru dan Kasek, banyak yang tidak pernah mengetahui apa yang namanya Standar Nasional Pendidikan. Bahkan lucunya ketika PP 19 itu adalah PP tentang apa, saya buat Quiz berhadiah, engga ada yang bisa menebak ??!!
Sehingga pengumpulan pendapat tentang UN menjadi tidak logis kalau mereka yang nge add tidak pernah tahu menahu tentang Sisdiknas. Ini bukan Pilkada.</p>

<p>Arifah  :
Kami belum lama ikut bedah buku Sekolahnya Manusia tulisan Pak Munif.. YAng berteriak lantang UASBN/UN dg materi soalnya.. tidak mampu membuat anak berpikir analitik kreatif dan inovatif..</p>

<p>Coba Pak Amir Friend dg Pak Munif, lihat pikiran2nya.. Mungkin akan melihat betapa sistem kurikulum dan teaching method guru2 selama ini memang sudah salah kaprah..</p>

<p>WAllahu&#8217;alam.. Kalo bisa seeh maunya kasih Home Schooling..</p>

<p>Amir Faisal menulis lagi :
Sisdiknas sudah merupakan produk yang terbaik hingga saat ini dan sangat memihak Lembaga Sekolah Muslim. Proses pengambilan keputusannya sangat panjang dengan menampung aspirasi dari para pakar pendidikan terbaik negeri ini. Jika masih ada overlapp itu sekali lagi pada implementasinya, sebagaimana comment saya kemarin, banyak pendidik yang tidak mau membacanya apalagi mempelajarinya.</p>

<p>Jika ke 8 standar dalam PP 19/2005 dilakukan secara seimbang dan prosesnya kosekwen dengan bunyi pasal 19nya, serta memperhatikan aspek regionalitas
(Apa yang tulis dalam comment saya kemarin mengenai ini ternyata sorenya sejalan dengan pendapat Prof Dr. Arif Rahman yang telah diakui kapasitas kepakaran dan keESQnya)</p>

<p>Sebaiknya ditunjukkan yang salah kaprah itu di bag mana. Misalnya, bag mana dari PP 19/2005 yang tidak sejalan dengan UU N0 20/2003, ataupun PP dan SK Mendiknasnya, itu yang harus diperbaiki.
Jadi jangan karena ada pendapat dari satu orang pakar, kemudian UU yang telah dibuat dengan susah payah itu, belum kita terapkan (dibaca saja engga) terus kita bongkar lagi.</p>

<p>Banyak sekali lembaga pendidikan di Indonesia yang sudah sangat bagus pemberdayaannya. Sebaiknya Pak Munif menggunakan pola pikir positip, dalam arti persepsinya cenderung pada sisi baiknya pada Sisdiknas. Dengan begitu bisa membantu memperbaikinya. Bukan membuat semakin blunder..</p>

<p>Nah loh..</p>

<p>Pusing kan.. saya harus bilang apa lagi.. wong saya ini Full Time Mom yang belum selesai belajar.. maka saya forwardlah dialog ini langsung ke Suhu MI saya, Pak Munif.. Alhamdulillah.. ternyata kemudian Pak Munif Nggak tanggung-tanggung langsung menanggapi dalam satu tulisan panjang berikut..</p>

<p>Munif Chatib :</p>

<p>Salam Pak Amir Faisal&#8230; semoga selalu dalam keberkahan dan kesehatan tak terhingga dari Allah SWT.
Langsung saja pak Amir &#8230; saya kog kurang sependapat ya..tentang UN membuat anak kita terdorong belajar dengan sungguh-sungguh, sampai rajin sholat, atau tiba-tiba ada istighosah agar lulus ujian. Menurut saya ayolah kita buka mata hati kita tentang kenyataan yang sebenarnya tentang dampak UN buat anak-anak kita.</p>

<ul>
    <li><strong>UN dan Kondisi Psikologis Siswa</strong></li>
</ul>

<p>Beberapa hari ini di banyak stasiun TV diundang anak-anak kita yg ‘cerdas’ tapi tidak lulus UN. Mereka kecewa dan kekecewaan ini masuk memori jangka panjang mereka, tidak terlupakan seumur hidup.</p>

<p>Semoga pak Amir melihat juga tayangan telivisi betapa shock-nya anak yang begitu melihat dia tidak lulus UN. Mereka shock pak&#8230;sampai pingsan. Di Sidoarjo pak, di kota saya tahun kemarin ada 2 siswa SMA yang bunuh diri sebab tidak lulus UN. Tapi keluarga mereka tidak mau diekspos.
Pak Amir yang terhormat. Kondisi psikologis seperti ini, bukan hanya 1 atau 2 anak kita pak. Tapi ratusan ribu. Saya punya segepok data-data dari daerah tentang betapa banyak sekolah yang rusak dihancurkan oleh siswa-siswanya sendiri sebab mereka tidak lulus UN. Nah mana mungkin kondisi psikologis massa yang sperti ini dapat dikatakan mendorong anak belajar sungguh-sungguh.</p>

<p>Pak Amir yang dirahmati Allah &#8230; jika anak kita belajar sungguh-sungguh terhadap suatu bidang studi itu mudah cara melihatnya. Hanya satu kondisi saja, yaitu mereka belajar dengan ‘menyenangkan’. Menyenangkan itu dalam prosesnya tanpa paksaan, dan dalam akhirnya ikhlas menerima apapun hasilnya. Meskipun jika anak kita belajar menyenangkan biasanya hasilnya akan berhasil. Nah jika anak kita serius belajar dalam menghadapi UN, pasti punya 2 sisi pak Amir, sisi pertama anak itu dituntut memang untuk belajar bidang stusi itu dan yang kedua anak dituntut untuk mendapat nilai di atas standar kelulusan UN agar dia lulus. Namanya saja ‘tuntutan’, apalagi pada sisi kedua, pasti anak kita stres. Jika Pak Amir menolak pendapat saya tentang anak-anak itu stres, maka jika Pak Amir seorang guru, maka berilah siswa2nya kuistioner tentang UN. Silahkan buat pertanyaan model apa saja. Hasilnya pasti mengisyaratkan dan memberi kenyataan kepada kita bahwa mereka ‘takut’, was-was dan stres menghadapi UN.</p>

<p><strong>Dan yang luar biasa adalagi gelombang komunitas yang besar yang ikut stres, yaitu para orangtua.
Saya pikir ana sejuta penyebab anak kita rajin sholat, rajin berdoa, menjadi hormat dan sayang kepada orangtua dan lain-lain dengan perasan tidak tertekan. Semoga buat Pak Amir beberapa paragraf yang sederhana ini dapat memberi tambahan informasi tentang kondisi psikologis massa yang berkaitan dengan UN.</strong></p>

<ul>
    <li><strong>UN dan KTSP</strong></li>
</ul>

<p>Pak Amir sahabat saya &#8230; Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu adalah kurikulum yang bagus banget. Begitu di lounching tahun 2006. Saya termasuk yang mendukung dan angkat topi kepada pemerintah. Waktu itu saya bilang kepada teman-teman guru seluruh Indonesia. Kita sekarang harus bersyukur sebab dengan KTSP setiap SATUAN PENDIDIKAN (Sekolah) mempunyai kewenangan penuh untuk mendisain Indikator Hasil Belajar dari sebuah silabus. Mempunyai kewenangan penuh untuk menyusun silabus sendiri. Mempunyai kewenang penuh untuk memilih bidang studi tertentu. Wow &#8230; saya bilang juga kalau sebentar lagi bangsa ini akan melesat kemajuannya di bidang pendidikan. Betapa tidak, KTSP di sebuah sekolah dikatakan berhasil, jika sekolah tersebut mampu menunjukkan ke-khasannya masing-masing.</p>

<p>Sekolah-sekolah binaan saya di seluruh Indonesia Pak Amir dengan suka citanya, menggunakan bidang studi yang namanya ‘Character Building’ (CB). Menjadi bidang studi favorit. Dan betapa banyak anak-anak yang ‘nakal’ secara akhlak, dapat dibantu dengan CB.</p>

<p>Walhasil KTSP adalah kurikulum ‘on the right track’. Saya sudah tidak perlu lagi mengcopy kan poin dalam KTSP di surat ini sebab saya yakin Pak Amir Faisal sudah mengetahuinya.</p>

<p>Nah sekarang kita lihat dengan mata hati yang bersih. Jika ruh dari KTSP adalah memberi kewenangan sekolah untuk mendisan silabus dan indikator hasil belajar. Lalu dari indikator itulah seorang siswa dapat dinyatakan dia tuntas atau tidak tuntas mempelajari sebuah Kompetensi Dasar, maka semestinya adalah soal-soal yang ditujukan kepada siswa kita untuk menyatakan lulus atau tidak lulus haruslah dibuat oleh sekolah masing-masing. Sebab yang diminta olej KTSP menyusun indikatornya dalah sekolah masing-masing.</p>

<p>UN adalah sebuah alat yang ‘tidak konsisten’ terhadap ruh KTSP. Percayalah pak Amir saya tetap mempunyai pandangan positif terhadap niat baik pemerintah. Namun kita ini juga harus menjadi rakyat yang kritis. Dalam hal ini, yang menajdi indikator bukan pendapat para pakar, bukan kedalaman ESQ-nya. Menurut saya apa sistem UN ini manusiawi. Pak Amir..kembali ke unsur manusiawi anak-anak kita. Saya yakin pak Amir setuju kalau saya katakan banyak juga pakar pendidikan yang menyesatkan. Mohon maaf, apalagi pakar-pakar dari barat yang memang me-lounching- sistem-sistem pendidikan yang didisain tidak manusiawi, menjadikan anak kita robot dan menyebarluaskan ‘hedonisme’.</p>

<p>Percayalah pak Amir &#8230; saya ini berpikiran positif. Dalam artikel saya di Facebook, saya secara sederhana menawarkan solusi cerdas. Win-win solution, yaitu merefungsi UN. Dari yang awalnya berfungsi untuk menentukan standar kelulusan menjadi UN dijadikan dasar statistik pemetaan kualitas pendidikan per distrik dan diangkat menjadi skala nasional. Itu saja pak Amir. Dan yang mempunyai wewenang meluluskan anak kita dari kelas 6 SD ke SMP, dari kelas 9 SMP ke SMA, dari kelas 12 SMA untuk lulus adalah sekolah masing-masing. Institusi terdekat dengan anak kita. Institusi yang mempunya hak evaluator terbaik, sebab institusi ini yang mendisain indikator-indikator pencapaian hasil belajar.</p>

<p>Betapa bahagianya jika itu terjadi.</p>

<p>Harapan pak Amir anak kita akan terus termotivasi belajarnya terwadahi, anak kita menjadi ‘birrul walidain juga terwadahi dan yang penting anak-anak kita yang cerdas-cerdas ini tidak stress. Di memorinya tidak ada lagi ‘kaki negatif’ stress, sehingga mempunya self image yang positif, terus berlanjut ke ‘personality’ yang positif dan akhirnya mempunyai ‘habit’ yang positif.</p>

<ul>
    <li><strong>Konten Soal UN</strong></li>
</ul>

<p>Pak Amir yang terhormat jika kita sudah bicara tentang konten soal UN. Dan kita sudah mendalami authentic assessment atau penilaian otentik dari kemampuan siswa, yang sudah dipakai di seluruh dunia. Maka konten dan instruksi soal UN itu termasuk ‘disability test&#8217;. Termasuk ‘unvalid test’, atau tes dengan kualitas paling rendah. Yang mana jika anak-anak kita mengerjakan soal-soal itu, sama sekali hasilnya belum mencerminkan ahasil sebenarnya dari kemampuan anak kita.</p>

<p>Naif kan Pak Amir &#8230; dengan konten seperti itu lalu digunakan untuk menentukan standar kelulusan. Dalam ‘penilaian otentik’, soal berkualitas dan yang mampu mengukur lebih dalam tentang kemampuan peserta didik salah satunya adalah yang mempunyai dua atau lebih rubrik penilaian. Nah &#8230; soal multiple choice dalam UN hanya mempunyai satu kriteria penilaian, yaitu benar dan salah. Hakekatnya semua siswa bisa menjawab UN, sebab hanya di lingkari saja. Setahun lalu hal ini berakibat negatif di salah satu SMA di jawa timur. 100 % siswanya tidak lulus UN, hanya disebabkan jawaban siswa yang ‘bunder-bunder’ itu tidak terbaca di komputer. Sampai-sampai dilakukan UN ulang.</p>

<p>Sekali lagi saya ajak Pak Amir untuk berpikiran positif, naif pak &#8230;dengan konten soal seperti itu lalu dijadikan standar ukur kelayakan dan kelulusan sebagai ukkuran kompetensi anak kita. Saya pikir kalau hati kita bersih akan menerima kenyataan ini, tanpa harus kita menjadi seorang profesor atau nilai keimanan kita sedang ‘meninggi’. Dalam topik konten ini saya batasi sampai di sini saja, meskipun ada 12 dimensi tentang konten dan instruksi soal yang berkaitan dengan penilaian otentik. Insyallah di lain waktu kita bisa sharing.</p>

<ul>
    <li><strong>UN, UU No. 20 2003 dan PP no 19 tahun 2005</strong></li>
</ul>

<p>Pak Amir Faisal yang terhormat, untuk membahas 3 makhluk di atas, sayangnya kita ini bukan anggota DPR. Jadi hanya bisa berpendapat saja. Izinkan saya mengkajinya dengan cara sederhana. Secara hukum positif UU itu lebih tinggi dari PP dan Peraturan Menteri (Permen)
Hal inilah yang menjadi perdebatan sampai sekarang tak kunjung selesai di komisi X DPR RI.
Dalam UU sisdiknas (UU No. 20 th. 2003) pada pasal 57 dan 58 dinyatakan bahwa hak evaluator ada di tangan ‘pendidik’ atau guru. Berikut saya cuplikan pasalnya.</p>

<p>Pasal 57
(1) Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
(2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.</p>

<p>Pasal 58
(1) Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
(2) Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.</p>

<p>Namun dalam petunjuk pelaksanaannya yaitu PP no 19 tahun 2005 secara nasional hak evaluasi itu dilakukan oleh BSNP, instutusi baru pada saat itu yang bertugas menyelenggarakan UN. Saya cuplikan pasalnya di PP tersebut.</p>

<p>Pasal 66
(1) Penilaian hasil belajar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) butir c bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional.
(2) Ujian nasional dilakukan secara obyektif, berkeadilan, dan akuntabel.
(3) Ujian nasional diadakan sekurang-kurangnya satu kali dan sebanyak-banyaknya dua kali dalam satu tahunpelajaran.</p>

<p>Pasal 67
(1) Pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelenggarakan ujian nasional yang diikuti peserta didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar dan menengah dan jalur nonformal kesetaraan.
(2) Dalam penyelenggaraan ujian nasional BSNP bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota, dan satuan pendidikan.
(3) Ketentuan mengenai ujian nasional diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.</p>

<p>Nah Pak &#8230; kita lihat kan, ada yang tidak sinkron. Dan terjadi tidak sesuai anatara UU dan PPnya. Perhatikan Pak tentang perpindahan hak evaluator dari guru ke BSNP. Dan juga perpindahan cara melakukan evaluasi, dari cara berkala, menyeluruh, transparan tiba-tiba berpindah menjadi bentuk ujian nasional, yang tidak berkala, sebab hanya 3 hari. Tidak menyeluruh sebab hanya beberapa bidang studi yang di UN kan ddan juga akhirnya tidak tranparan, penuh kecurangan. Sebab tingkat kelulusan siswa dalan UN sekarang banyak dipakai alat ukur untuk kinerja kepala dinas oleh bupatinya dan seterusanya.</p>

<p>Nak Pak Amir Faisal saya percaya anda adalah orang yang baik. Dan semoga mau menerima tulisan saya ini dan untuk seterusnya menjadi sahabat, meskipun ada perbedaan pandangan. Hanya satu pak kita yang sama, yaitu semoga kita ikhlas berjuang untuk memajukan pendidikan di negara kita yang tercinta ini. Amien.</p>

<p>Wassalam
Munif Chatib</p>

<p>Sekali lagi terima kasih Pak Munif untuk waktu dan penjelasannya yang begitu komplit. Saya tulis semua ini dalam note.. Karena dialog ini perlu dibaca semua kalangan yang terlibat langsung pendidikan anak.. Baik sebagai Guru maupun Orang tua.. Semoga bermanfaat..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2009/11/bagaimana-menyikapi-ujian-nasional-2010-lanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Menyikapi Ujian Nasional 2010?</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2009/09/bagaimana-menyikapi-ujian-nasional-2010/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2009/09/bagaimana-menyikapi-ujian-nasional-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 16:32:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Desi Oktoriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Orang tua murid di Sekolah Alam Bandung (SAB) SD kelas 6 dibuat panik dan ketar-ketir untuk urusan ujian nasional tahun 2010, ini berbanding terbalik dengan perasaan dan semangat siswa sd keals 6 yang cenderung santai bahkan acuh tak acuh dalam menyikapi ujian nasional.

Beberapa pertemuan digelar dewan kelas untuk menyikapi kekhawatiran para orang tua murid atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang tua murid di Sekolah Alam Bandung (SAB) SD kelas 6 dibuat panik dan ketar-ketir untuk urusan ujian nasional tahun 2010, ini berbanding terbalik dengan perasaan dan semangat siswa sd keals 6 yang cenderung santai bahkan acuh tak acuh dalam menyikapi ujian nasional.</p>

<p>Beberapa pertemuan digelar dewan kelas untuk menyikapi kekhawatiran para orang tua murid atas kesiapan anak-anaknya dalam menempuh UN yang padahal baru akan dihadapi tahun depan.</p>

<p>Sikap kritis orang tua memang perlu mendapat acungan jempol, akan tetapi bila sikap tersebut melahirkan banyak penyimpangan terhadap visi dan misi yang mendasar dari SAB maka memerlukan banyak pengkajian lanjutan baik dari segi konsekwensi yang harus dihadapi sampai dengan evaluasi kembali apa yang sebenarnya kita para orang tua kehendaki untuk diri anak-anak dalam pendidikan yang diberikan kepada mereka selama ini.</p>

<p><span id="more-91"></span></p>

<p>Pertanyaan besarnya adalah mana yang lebih kita kedepankan anak-anak lulus UN dengan hasil yang mumpuni tetapi dengan jalan men-drill kasarnya mengkebiri mereka agar terus-menerus mendapatkan pelatihan soal-soal yang mungkin keluar dalam ujian? ataukah orang tua tetap bersikap memegang teguh bahwa pendidikan anak adalah untuk mebuat mereka lebih paham akan segala sesuatu tanpa harus banyak mendikte dan membiarkan mereka menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mengembang dibenak mereka? dengan resiko tentunya hasil UN dipastikan kurang memuaskan.</p>

<p>Ada dua garis besar yang kita bisa ambil selaku orang tua dalam menyikapi masalah UN mendatang:</p>

<p>Pertama, bagi orang tua yang siswanya akan melanjutkan ke sekolah lanjutan SL SAB maka sebenarnya langkah yang harus diambil adalah tetap tenang dan santai menyikapi UN tidak perlu mengikutkan anak untuk les ini dan itu ataupun pelajaran tambahan serta men-drill mereka agar dapat nilai baik dalam UN karena memang SL SAB tidak memerlukan nilai UN karena memang sistem belajar serta visi misi SAB berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya.</p>

<p>Kedua, bagi orang tua yang menginginkan anaknya untuk melanjutkan kesekolah yang memerlukan nilai UN (idealnya anak juga turut menentukan pilihannya sendiri) karena berbagai sebab misalnya; tempat yang lebih mudah di jangkau, biaya yang terjangkau dan lainnya. Maka yang dibutuhkan adalah pola drill dan bila perlu pelatihan intensif dari semester awal sampai semester akhir menjelang UN.</p>

<p><strong>Ini semata-mata dilakukan karena memang seperti itulah sistem pendidikan nasional kita yang masih carut marut dan silih berganti dalam hal kebijakan dan tujuan pendidikan sejalan dengan bergantinya para mentri pendidikan dan jajarannya.</strong></p>

<p>Saya selaku orang tua murid yang anaknya akan mengikuti UN, pada awalnya bersikap sangat naif. Menjadi agressor bagi anak agar mau berlatih keras untuk UN memiliki kekhawatiran yang sangat dalam menilik kemampuan anak dalam menghadapi UN. <strong>Tetapi berkat dukungan dari suami dan orang-orang terdekat serta orang tua murid yang lain akhirnya perlahan tapi pasti saya mengumpulkan keberanian  serta kesadaran bahwa <em>anak adalah milik masa yang akan datang mereka adalah milik diri mereka sendiri yang akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak dihadapan Allah SWT</em>. </strong>Do&#8217;a saya pada anak-anak hanyalah<strong> <em>semoga mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah menjalani kehidupan ini dengan ketaqwaan dan keikhlasan</em> </strong>meskipun mereka kelak bukan siapa-siapa dihadapan manusia<strong> tapi Allah ridha terhadap mereka </strong>itu <strong>lebih saya cintai </strong>daripada<strong> mereka menjadi orang yang dipuja manusia tetapi Allah murka. Amiin. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2009/09/bagaimana-menyikapi-ujian-nasional-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://sekolahalambandung.com/2009/07/hello-world/</link>
		<comments>http://sekolahalambandung.com/2009/07/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 16:22:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sekolahalambandung.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sekolahalambandung.com/2009/07/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
