Skip to content


Antara Upin Ipin, RI dan Malaysia

Bila seseorang bilang “Malaysia” yang terbayang dibenak adalah film kartun “Upin Ipin”  yang saat ini sedang merajai per-film-an anak Indonesia. “Betul…. betul…. betul…” adalah salah satu kalimat yang paling akrab ditelinga anak Indonesia bahkan kalangan muda dan tua saat ini.

Upin  & Ipin

Film kartun buatan Malaysia ini memang sangat digemari, anak saya yang baru berumur dua tahun saja bila kebetulan sedang menyaksikan tayangan “Upin Ipin” yang ditonton oleh kakaknya mau ikutan menyimak tanyangan tersebut dengan cukup antusias.

Memang seakan-akan Film “Upin Ipin” ini menjadi gambaran yang pas bagi kehidupan rakyat Malaysia yang hampir mirip dengan kehidupan rakyat Indonesia. Kehangatan antar adik dan kakak, antar tetangga, antar teman tergambar begitu jelas dan tulus.

Sayangnya kenyataan keeratan hubungan bangsa yang serumpun ini berkata lain. Akhir-akhir ini media massa sering sekali menayangkan perseteruan antar RI dan Malaysia dari berbagai permasalahan. Dari mulai perseteruan penjiplakan budaya, perebutan batas wilayah sampai perlakuan terhadap TKI oleh pemerintah Malaysia.

Saya berharap bahwa anak-anak kita cukuplah mengenal Malaysia seperti tokoh-tokoh Upin dan Ipin yang polos, riang, tanpa beban, penuh dengan kehangatan, penuh ungkapan unik yang menggelitik ditelinga. Upin dan Ipin yang dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mereka seperti kakak perempuan, opa dan Datuk serta kawan-kawan dari berbagai suku bangsa (China, India, dll).

Yang sangat jelas tergambar dari Film “Upin Ipin” adalah kehidupan keagamaan yang berdasarkan syariat Islam sangat kentara, seperti pada judul film di bawah ini:

Upin & Ipin (2007) 1. Esok puasa 2. Dugaan 3. Nikmat 4. Terawih 5. Esok Raya 6. Hari Raya

Upin & Ipin: Setahun Kemudian (2008) 7. Tadika 8. Anak Bulan 9. Adat 10. Tamak 11. Lailatul Qadr 12. Kisah & Tauladan 13. Sayang Kak Ros 14. Ketupat 15. Zakat Fitrah 16. Malam Syahdu 17. Pagi Raya 18. Berkat

Semoga Perseteruan RI dan Malaysia saat ini bukan( sengaja) dipicu oleh pihak-pihak yang hendak mengambil untung dari politik “Devide et Impera” antar sesama Muslim walaupun mustahil rasanya perseteruan tersebut terjadi tanpa ada pihak yang ingin memancing di air keruh!. Bersatulah umat Muslim, eratkan tali persaudaraan, selamatkan anak-anak kita dari kebodohan segelintir manusia yang merasa berkuasa.(Dua Gajah bertarung: Pelanduk mati di tengah-tengah).

Ditulis dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Indonesia; (17 Agustus 1945-2010)

Yang telah diperjuangkan dengan harta dan jiwa oleh umat Islam di seluruh Indonesia.

Posted in Cerita Ringan, Opini, Uncategorized.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.

Powered by WP Hashcash