Assalaammu’alakum wr. wb.
Halo SAB!… Bagaimana khabar mu hari ini? Kalau boleh ikut berpendapat…. saya ingin mengutarakan hal tentang “Hendak Kemana SAB?”
Jujur saja bagi saya saat ini saya merasa bingung dengan Sekolah Alam Bandung. Pada kali pertama saya mengenal SAB, saya sangat tersentuh oleh falsafah yang ditulis dalam brosur yang pada intinya bahwa SAB ingin mencetak anak-anak yang bukan saja cerdas dari segi kognitif saja akan tetapi yang tepenting adalah menjadi pemimpin yang berakhlaqul karimah dan bertaqwa melalui konsep-konsep yang diajarkan oleh Islam dengan memanfaatkan sebanyak-banyaknya kearifan alam sekitar.
Awalnya saya berharap banyak dari langkah yang saya ambil untuk memindahkan anak saya dari SD Negeri ke SAB, keunikan yang luar biasa membuat saya kagum. SAB memiliki kekuatan dari keindahan alam sekitar, udara yang segar dan bersih, warna hijau disepanjang penglihatan dengan berbagai gradasinya, air yang mengalir melantunkan irama yang merdu, suara burung-burung yang berkicau bahkan desir pepohonan begitu merayu sungguh indah! Subhanallah…
Belum lagi bila melihat anak-anak begitu menikmati bersekolah di SAB karena bebas dari aturan seragam, mengerjakan PR yang berjibun, bebas dari kungkungan tembok sekolah bahkan bebas mengekspresikan diri untuk menjadi orang yang sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing. Luar biasa…
Akankah hal itu ternoda? karena sebagian dari kita orangtua dan guru serta masyarakat SAB pada umumnya sepertinya lupa apa yang sebenarnya hendak kita capai untuk anak-anak kita bersekolah di SAB? Bukan… sama sekali bukan mengecilkan arti perjuangan sebagian besar guru-guru, pihak yayasan dan orang tua semuanya.
Hanya saja barang kali ini dapat mengingatkan kita agar berada dalam lajur (jalan) yang tepat. Artinya jika selama ini sekolah alam memang diperuntukkan untuk memanfaatkan alam secara bijak maka mulailah ajarkan anak-anak kita untuk bergelut dengan alam (bercocok tanam: mencangkul, menyemai bibit, menanam, memelihara dan memetik hasilnya. berternak: memberi makan, memelihara, membersihkan kotorannya membuat kompos dan menjual sebagian dan memakan sebahagian hasilnya.)
Untuk bersekolah di sekolah yang bernuansa alam ini memang tidaklah murah artinya banyak biaya yang harus dikeluarkan termasuk memelihara rumput, ribuan pohon, menjaga pasokan air, dll. Belum lagi biaya untuk guru-guru agar mereka loyal kita harus mengerti pula kebutuhan dasar para guru.
Ada berbagai cara untuk memberikan solusi dari masalah pembiayaan ini dan “manakah yang akan diambil?” atau bahkan sedang dijalani?
Pertama: Sekolah alam menaikkan biaya masuk, biaya perbulan dari orang tua siswa. Bagaimana dampaknya? Orang tua yang masuk pada umumnya adalah yang memiliki penghasilan yang cukup artinya memiliki segmentasi menengah keatas. Sementara itu jujur saja orang tua yang sungguh-sungguh berharap pada perbaikan ahlak atau mengerti tujuan dari SAB akan semakin berkurang karena terhambat oleh biaya tinggi.
Kedua: Manfaatkan dan libatkan anak-anak untuk membiayai sekolah mereka sendiri dalam batas kewajaran. Ajarkan Anak-anak bercocok tanam: mencangkul, menyemai benih, memeliharanya dan menuai hasilnya untuk dirinya beternak itik: menyiapkan kandang, memberi makan, membersihkan kotoran dan menjualkan hasilnya ke pasar. Di situ ada tanggung jawab, kerja keras juga pendidikan yang sangat agung. “Saya ikhlas jika anak saya harus pulang lebih sore karena harus bertanam padi atau sayuran untuk membiayai sekolah mereka sendiri.” (ini pendapat suami saya)
Ketiga: Pemerintah telah telah mencabut subsidi BBM. Dan menyatakan bahwa subsidi tersebut dialihkan untuk membiayai pendidikan. Kita orang tua guru dan masyarakat sekolah telah membayar lebih untuk mendapatkan BBM artinya itu uang kita dan anak-anak kita berhak untuk mendapatkannya. Besaran bantuan pemerintah adalah Rp 22.000,00 per anak per bulan ditambah dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp 250.000.000,00 persekolah dan Rp 40.000.000,00 per tahun dana dari pemkot. Belum lagi bantuan tunjangan guru swasta Rp. 600.000,00 per orang per 6 bulan..lumayan… Begitu banyak dana yang bisa dimanfaatkan dan itu adalah hak kita.
Bagi saya pribadi gabungan langkah kedua dan ketiga adalah solusi yang baik untuk dijalankan agar SAB tetap berjalan pada jalurnya. Bukan hanya mengambil langkah pertama yang sangat beresiko karena dapat menggeser nilai dan falsafah SAB yang luhur.
“Bagaimana dengan anda?”
Wassalam Desi Oktoriana (Orangtua Siswa)
Saya ingat cerita yang saya baca di salah satu buku, bahwa zaman dulu sebelum ada SD Inpres, banyak sekolah kampung berlantai tanah, berdinding kayu atau bambu, beratap nipah. Di situ diceritakan bahwa tiap liburan panjang para siswa dan orang tua siswa bergotong royong melakukan “perawatan tahunan” terhadap sekolah mereka. Kebiasaan ini terhenti setelah proyek SD Inpres diluncurkan karena bangunan diganti menjadi tembok dan pekerjaan perawatan diserahkan ke pemborong.
Jadi, saya setuju sekali dengan usul “mendayagunakan” siswa dalam “pemeliharaan” sekolah. Ini akan mendidik anak – anak dalam memahami tanggung jawabnya memelihara segala sesuatu, bukan melulu menggunakan saja.
Syafrudin (ayah Daud SD-1)
Tulisan yang sangat mendalam. SAB tentu beruntung sekali mendapat orang tua siswa yang begitu perhatian terhadap sekolah putra-putrinya yang Insya Allah dapat memperkaya SAB dalam menata diri dari waktu ke waktu. Sebagai calon ortu siswa yg juga berniat akan memindahkan putranya ke SAB dari sekolah negeri saya jadi ikut prihatin. Lalu bagaimanakah kabar SAB saat ini?? Sudahkah menemukan ‘kembali’ jalan itu?
assalamu’alaikum wr wb
SAB lam kenal maaf klo boleh tau sekolah alam di sewakan buat acara gathering komunitas ngga…??? klo misalkan bisa boleh saya minta no contact yang bisa di hubungi… bisa hubungi saya di no 02292444097 or via ym chep_metal@yahoo.com
terimakasih…
wassalamu’alaikum wr wb
sepertinya boleh… langsung saja hubungi kepala sekolah alam bandung Bpk Teddy Sunandar. terimakasih kembali.
Mudah-mudahan semua kegiatan SAB memberikan inspirasi bagi sekolah kami. AMIN
Ass.Wr.Wb Saya orang tua dari dua anak yang masih PG dan TK. Rumah saya di Cibiru Bandung. Saya sangat tertarik dengan Sekolah Alam Bandung dan berencana menyekolahkan anak saya di SD SAB, tapi rumah saya jauh dari SAB,ini masalah pertama. Saya seorang ibu yang bekerja di luar rumah 5 hri seminggu (PNS), suami juga bekerja sebagai PNS. Penghasilan PNS golongan III pasti bisa ditebak berapa besar per bulannya. jadi, masalah kedua adalah biaya yang tidak cocok untuk menyekolahkan anak di SAB. Saya juga sudah melihat biaya pendidikan di SAB untuk tahun ajaran 2009-2010.
Saya tertarik untuk menyekolahkan anak di SAB, pertama adalah karena anak pertama saya mengalami gangguan konsentrasi dan bicaranya masih belum jelas intonasinya. dokter tumbuh kembang anak mendiagnosisnya sebagai gejala autis dan gangguan konsentrasi. ia sudah menjalani terapi wicara dan kupasi di Al-Islam lebih dari 2 tahun. alhamdulillah banyak perkembangan. makanya, ia bisa masuk sekolah PG dan TK umum di wilayah Bandung Timur. usianya saat ini 4,5 tahun.
kedua, saya merasa pas dengan metode dan kurikulum yang diterapkan di SAB. juga dengan guru-guru yang berkualitas dan tempat belajar yang alami. saya sudah membacanya.
Kembali ke permasalahan, saya sangat setuju dengan Ibu Desi Oktoriana (orang tua siswa)tersebut. jelasnya, saya mempunyai dua permasalahan, yaitu tempat yang jauh dan biaya yang tidak terjangkau. mungkin kalau alasan lokasi sekolah yang jauh dari rumah saya, bisa diatasi. Namun, biaya sulit untuk diatasi saat ini. mungkin itu permasalah pribadi saya. mungkin dari pihak SAB atau pihak-pihak lain yang peduli terhadap pendidikan anak bisa membantu dan memberi solusi.
demikian harapan dan kecemasan saya sebagai seorang ibu,meningat anak pertama saya termasuk anak yang berkebutuhan khusus, walau masih dalam taraf ringan.
Wass… Ibu dari Muhammad Athar Burhany (4,5 th) dan Mutiara Shofa Kamila (3 th).