Rasanya sudah lama sekali Blog SAB tidak memunculkan cerita atau tulisan baru. Surat Terbuka Buat Mas Lendo (pencetus SAB) adalah tulisan ‘terbaru’ yang saya lihat, itupun bertanggal 4 Agustus 2007. Sedangkan sekarang sudah masuk bulan Oktober.. yaa.. sudah 2 bulan .. Mudah-mudahan semua elemen dan komunitas SAB bisa lebih aktif lagi menyumbangkan cerita, tulisan, maupun artikel di blog SAB ini. amin. Karena, menurut pandangan saya, hal ini bisa dijadikan indikator seberapa perhatian kita pada perkembangan dan informasi seputar SAB.
Seperti tulisan singkat yang saya coba angkat saat ini. Ceritanya sederhana. Saya bertemu dengan sahabat lama pada saat saya sedang berada di bandung. Kebetulan.. karena sudah lama tidak bertemu, kami habiskan waktu cukup lama untuk bertukar cerita, dari nostalgia masa lalu, hingga cerita tentang keluarga masing-masing. Sampai pada topik sekolah, seperti pada umumnya, sekolah anak jadi salah satu topik pembicaraan. Yang agak mengejutkan saya, adalah komentar sahabat saya sewaktu saya sebutkan SAB sebagai sekolah anak-2 saya. Entah secara disengaja atau tidak, komentar tersebut cukup mengagetkan saya. Kalimat pertama yang saya dengar dari sahabat saya tentang SAB adalah.. “oo.. sekolah yang mahal itu ya ..??” Saya sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bisa meneruskan pembicaraan saya.
Saya jadi teringat ketika dulu saya diberitahu tentang “cita-cita” sekolah alam… yang ingin menjadi sekolah bagi semua. Yang artinya bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, terutama kalangan menengah kebawah. Sebuah cita-cita yang mulia, apalagi di jaman yang kian sulit ini. Tapi sungguh, ucapan sahabat saya itu, seperti membangunkan saya dari tidur yang lelap. Benarkah SAB kini menjadi sekolah yang mahal ?
Secara logis, sebagai sekolah yang masih tergolong baru, SAB tentu perlu dana yang cukup besar untuk membangun sarana dan prasarana sekolah. Akan tetapi, jika melihat realita kondisi sarana dan prasarana yang ada, sebagian orang jadi bertanya-tanya, apakah memang semahal itu biaya sekolah dan jihad harta yang harus dibayar orang tua murid? Terlebih saat ini, sebagian besar sarana dan prasarana sudah ada (walau berkesan seadanya), sudah selayaknya biaya sekolah mulai menurun, terutama jihad harta.
Pemikiran seperti di atas diungkap oleh teman saya yang ternyata termasuk salah satu pemerhati pendidikan, terutama di kota bandung. Sulit bagi saya memberikan argumen-argumen untuk menjelaskan paradoks yang terjadi di SAB. Di satu sisi, sebagai bagian dari komunitas SAB, saya ingin memberikan penjelasan dengan baik, bagaimana sebenarnya SAB itu. Tapi di sisi lain, pemikiran dan ungkapan teman saya ini juga menjadi cermin buat saya (dan saya berdoa mudah-mudahan juga jadi cermin bagi kita semua anggota komunitas SAB) bahwa demikianlah pandangan sebagian masyarakat tentang SAB. Apakah SAB sudah menjadi “sekolah mahal” bagi sebagian masyarakat? Apakah cita-cita Sekolah Alam, sebagai sekolah untuk semua, hanya tinggal cerita saja ?
Masih banyak hal yang saya perbincangkan dengan sahabat seputar sekolah & SAB. Saya hanya mengungkap satu hal saja pada tulisan ini, tentang mahalnya SAB dalam pandangan sahabat saya. InsyaAllah di waktu lain, saya ungkapkan pembicaraan lain, masih seputar SAB tentunya. Mudah-mudahan cerita ini bisa jadi cermin buat kita untuk lebih melihat kedalam, mendengarkan pendapat, saran, dan kritik dari pihak lain, TANPA disertai pikiran buruk.
Salam, Pia (Taqwa Sitepu) Orang tua Azka & Alifah
Alhamdulillah jika ada yang mulai tersadar akan kondisi di SAB. Saya yakin banyak orang tua yang setuju bila SAB kini mengalami pergeseran yang cukup signifikan dari tujuan awalnya. Kini saatnya kita harus berfikir jernih, jika kita memang menginginkan sekolah dengan kemandirian penuh tanpa bantuan dari siapapun maka memang SAB memerlukan biaya tak sedikit dari para orang tua (setidaknya orang tua harus membayar minimal Rp. 500.000,00 perbulan) agar SAB bisa berjalan lancar dan guru-gurupun kesejahteraannya meningkat. Konsekuensinya SAB harus menerima orang dari kalangan atas yang memiliki kelebihan uang yang cukup untuk membiayai anak-anaknya. Jika memang ingin agar biaya SAB turun mau tidak mau seharusnya pihak yayasan sudah memikirkan bantuan dari pemerintah yang cukup besar (bantuan itu diberikan dari kompensasi biaya BBM yang dinaikkan oleh pemerintah artinya itu uang rakyat ya uang kita2, anak2 kita, guru2 kita berhak mendapatkannya). Ada apa dgn Yayasan yang tidak mau menerima bantuan dari pemerintah yang jelas-jelas uang rakyat/ uang kita2? Mereka lebih memilih untuk menerima bantuan dari orang-orang kaya (nota bene orang tua yang sanggup membayar dengan biaya cukup tinggi?) Takutlah ancaman dari Allah kalau kita cuma peduli dengan orang-orang kaya diantara kita. Umar bin khatabpun bila ia masih hidup dan melihat tingkah kita saat ini pastilah ia benci, karena kita sudah jauh dari perintah allah untuk hidup sederhana dan tidak memperpanjang angan-angan keduniawian semata. Na’udzubillahhi min dzalika.
Agar biaya sekolah bisa terjangkau bisa dilakukan hal2 sbb:
Pada zaman saya sekolah dulu, orang tua tidak harus beli buku. Sekolah akan meminjamkan buku-buku yang biasanya terbitan Balai pustaka (BUMN). Orang tua cukup membayar uang perpustakaan yang besarnya kurang dari ¼ harga buku.
Itu pun beda dengan buku pelajaran zaman sekarang yang harus ditulisi dengan pulpen sehingga tidak bisa dipinjamkan ke adik kelasnya. Buku-buku pelajaran zaman itu bisa diberikan kepada adik atau saudara yang memerlukan. Sehingga biaya buku benar-benar terjangkau.
Yang membuat sekolah zaman dulu lebih terjangkau adalah jam pelajaran tidak terlalu lama. Untuk kelas 1-3 SD hanya sekitar 2,5 jam pelajaran sehingga dalam satu hari bisa 4 kelas (160 murid) untuk satu ruangan yang sama dengan satu guru. Kelas 4 SD hingga kelas 3 SMP sekitar 5 jam pelajaran sehingga bisa menampung 2 kelas (80 murid) untuk 1 ruangan dan satu guru.
Jam pelajaran tersebut cukup efektif karena menurut beberapa penelitian jam pelajaran yang terlalu panjang justru tidak efektif karena murid-murid hanya dapat fokus 15% saja. 85% pelajaran yang diberikan justru tidak terserap dengan baik.
Sistem Full Day School selain membuat biaya sekolah jadi mahal juga tidak efektif dan bisa membuat murid kelelahan dan frustrasi karena jam belajar yang sangat panjang. Jangankan murid, gurunya saja bisa kelelahan. Banyak sekolah yang menerapkan Sistem Full Day School akhirnya biayanya jadi sangat mahal. Uang masuk saja bisa mencapai Rp 7 juta lebih sementara iuran bulanan lebih dari Rp 300 ribu/bulan.
Baca selengkapnya di: http://infoindonesia.wordpress.com/2008/07/16/biaya-sekolah-yang-mahal-uang-buku-rp-1-jutasemester/
Ass,Wr,Wb. Saya ibu dari dua orang anak yang bekerja di luar rumah, sebagai PNS. saya punya cerita singkat tentang “mahal”nya sekolah alam. Waktu itu tahun 2008, teman saya punya anak yang mau masuk SD. Ia sangat tertarik dengan SAB dan hendak menyekolahkan anaknya di sana. namun, raut wajahnya tampak sedih dan sayu. ia mengurungkan niatnya hanya karena keterbatasan dana yang dimilikinya. Baginya sekolah alam adalah sekolah kelas atas untuk golongan atas (orang kaya). padahal, visi dan misi sekolah alam sangat cocok dengan visi misi pribadinya, sebagai seorang ibu dan orang tua yang peduli tentang pendidikan anak dan masa depannya.
Saat itu, anak-anak saya masih batita, belum punya rencana mau sekolah dimana. sekarang kedua anak saya juga beranjak masuk usia SD dan saya pribadi sangat tertarik dan berencana untuk menyekolahkan mereka di SAB. namun, mungkin rencana itu perlu direvisi atau ditinjau ulang. bagi saya, biaya SAB tidak terjangkau, mengingat penghasilan saya yang PNS golongan III dan suami juga sama dengan saya. bisa dihitung, jika penghasilan per bulan saya dan suami digabung, masih juga belum bisa menutupi biaya masuk anak SD di SAB.
Saya menyadari, biaya pendidikan tidak murah. fasilitas yang disediakan butuh biaya tinggi, dan kesejahteraan guru pun harus diutamakan. mungkin ada benarnya untuk saya meninjau ulang rencana pribadi saya. saya punya keinginan yang tidak sesuai dengan kemampuan. namun, saya masih berharap dan berusaha, akan ada solusi untuk memecahkan masalah saya. mungkin ada sumbangan pemikiran supaya keinginan saya bisa terwujud. saya sangat berterimakasih kepada siapa saja yang peduli dan semoga Allah SWT membalas segala niat baik kita semua. Amin.
Demikian cerita singkat saya. saya hanya berharap ada perhatian khusus dari SAB dan para pemerhati serta praktisi pendidikan lainnya. Insyaallah apabila niat menjalankan sunnah rasul dan ajaran Islam dengan baik, akan ada solusi dan kemudahan dalam menjalankan sebala usaha. amin.
Wass. Ibunda dari Athar (4,5 th) dan Mutiara (3 th).