Hari Ahad, 16 April, lalu saya “diundang” anak perempuan saya (SD-2) untuk mengikuti acara “bengkel kerja” (workshop) teater yang untuk hari itu dilakukan di Taman Budaya Jawa Barat, dekat lokasi Sekolah Alam Bandung. Acara bengkel kerja teater ini sudah berlangsung sejak pertengahan bulan Maret lalu dan biasanya dilakukan di sekolah pada hari Sabtu pagi dan Ahad siang. Judul lakon mereka adalah Kena Batunya. Di dalamnya terdapat peran beberapa macam binatang, seperti harimau, kancil, burung, kupu-kupu.
Karena anak saya sudah sibuk menjahitkan kostum untuk teater semenjak hari Sabtu, saya sangka hari itu sudah akan pementasan. Ternyata belum, namun tetap menarik saya ikuti di bagian awal dan akhir. Dengan diarahkan pelatih teater, acara dimulai di selasar Taman Budaya pada sekitar pukul 14.00. Saya lihat anak-anak sibuk dengan peran mereka. Bergantian “kelompok binatang” tersebut maju ke depan sambil diamati teman-teman mereka yang duduk melingkar. Karena sambil tertawa riang, gerakan yang disodorkan pelatih harus diulang beberapa kali sampai dengan disebut “layak”. Tentu tidak menjadi persoalan: semua aktivitas anak-anak adalah pengulangan, hingga mereka menguasai. Setelah itu mereka pindah di panggung terbuka yang memang pada hari itu bebas dipakai untuk latihan. Orang-orang tua pengantar menjadi “penonton” dari tribun dan menyemangati mereka dengan tepuk tangan atau teriakan. Pak Imam yang sore itu membawa gitar kecil mengiringi “pementasan”.
Di akhir acara, semua berkumpul mendengar penjelasan pelatih teater. Disebutkan bahwa yang masih terlihat kurang adalah koordinasi dan penghayatan terhadap skrip cerita. Koordinasi ini dikaitkan dengan aksi bersama yang memang perlu ketekunan mengatur komposisi pemain baru belajar ini.
Yang jelas, untuk anak-anak kegiatan ekstra seperti ini terlihat menyenangkan. Mereka bisa bermain-main bersama teman-teman mereka sambil menunggu acara ataupun selama latihan berlangsung!
0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.