Skip to content


Sulitnya Mendapatkan Sekolah yang Baik Bagi Perkembangan Jiwa dan Akhlak Anak

Tahun ajaran baru 2010/2011 sangat berat bagi saya sebagai orang tua yang harus memasukkan dua anak ke sekolah yang baru, ke dua sekolah yang berbeda jenjang sekaligus. Anak pertama masuk ke SMP dan anak ke dua ke SD. Banyak pertimbangan yang harus kami ambil untuk memutuskan dimana anak-anak akan bersekolah.

Si sulung dengan berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan untuk disekolahkan ke SMP Negeri dan pada tanggal 7 Juli 2010 diterima di salah satu SMP Negeri di Bandung yang passing gradenya lebih dari 8. Kami sebagai orang tua berharap bahwa anak kami yang juga lulusan SD Sekolah Alam Bandung  (SAB) mendapat pendidikan di SMP Negeri tersebut setidak-tidaknya sama baiknya seperti di SAB.

Harapan tinggallah harapan, meskipun sekolah SMP tersebut jaraknya cukup dekat, tempatnya nyaman dan cukup luas serta bangunannya dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai, banyak hal yang menjadi sumber kekecewaan kami. Satu diantaranya pada saat pendaftaraan dimana seluruh siswa berkumpul dan diberi pengarahan untuk acara yang akan dilangsungkan pada hari Senin, 12 Juli 2010  (hari pertama masuk sekolah) siswa SMP tersebut diberi perintah untuk membawa barang sebagai berikut:

  1. Ciki 3 taro 1
  2. Nasi piramida
  3. Permen jejak rasul
  4. Minuman Munafik
  5. Minuman Gokil
  6. Coklat ratu pantai selatan
  7. Coklat ratu perak
  8. Koin manis
  9. dll.

Setelah ditelaah ternyata perintahnya diterjemahkan sebagai berikut:

  1. Ciki 3 taro 1 = bawa ciki 2
  2. Nasi piramida = Nasi bacang
  3. Permen jejak rasul = permen kaki
  4. Minuman Munafik  =  ???
  5. Minuman Gokil = Fruit Tea  ( sesuai dengan iklannya)
  6. Coklat ratu pantai selatan =Coklat merek Suzanna (pemeran Film “Nyi Roro Kidul”)
  7. Coklat ratu perak = Coklat Silver Queen
  8. Koin manis = Coklat Koin
  9. dll.

Bagi para orang tua siswa atau bahkan guru-guru di SMP tersebut membawa barang-barang di atas tidak ada hal yang mengherankan atau kurang wajar, karena memang di sekolah tersebut kebiasaan Masa Orientasi Siswa (MOS) sudah turun-temurun berpuluh tahun lamanya berlangsung. Tapi bagi kami sangat tidak terbiasa meberikan makanan ringan  berupa ciki karena memang di sekolah sebelumnya makanan tersebut masuk dalam kategori banyak zat aditif yang membahayakan sehingga dilarang untuk dibawa kesekolah.

Belum lagi perkara mengasosiasikan  JEJAK RASUL dengan permen kaki berwana merah terang dengan bungkus plastik biru tua bergambar clown (badut bermata lebar) sangat membuat hati kami tidak tenang. Apa maksud dari analogi tersebut? apakah hanya untuk lucu-lucuan?? Bagi kami ini seperti permainan dengan penghinaan terhadap agama Islam dan semoga hal tersebut dilakukan karena semata-mata kebodohan dan kekhilafan bukan unsur kesengajaan yang hendak meremehkan Islam.

Anak kami yang ke dua pun menghadapi berbagai masalah saat hendak masuk ke sekolah yang kami “harapkan” setidaknya lebih baik dengan pertimbangan jarak yang dekat serta biaya yang lebih murah. Dengan embel-embel SD SN (standar nasional) sekolah tersebut pada awalnya menjadi pilihan kami. Akan tetapi usut punya usut ternyata banyak praktik yang tidak sesuai di lapangan. Selain itu pula mengenai beban pelajaran yang sangat tinggi yang harus dihadapi anak kami kelak yang baru saja masuk kelas satu SD membuat kami berfikir ulang dan akhirnya kami putuskan untuk menyekolahkannya di SAB. Betul sekali bila ada salah seorang orang tua siswa yang berkata: “SAB bukanlah sekolah yang sempurna, akan tetapi anak saya suka bersekolah di SAB dan itu lebih dari cukup.”

Di SAB memang saya tidak menemukan istilah perpeloncoan bagi siswa baru, penanaman nilai keagamaan juga cukup baik walaupun masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Semoga beberapa tahun ke depan SAB yang sedang berbenah diri semakin baik dan mendapat pengakuan dari pemerintah. Karena bagaimanapun SAB adalah sekolah yang tengah berupaya untuk mencetak lulusan yang cerdas dan berakhlaqul karimah.

Apalagi saat ini di Jawa Barat saja  banyak anak-anak usia sekolah yang tidak tertampung di sekolah negeri maupun swasta yang jumlahnya mencapai lebih dari 428.000 0rang (sumber berita: Koran PR. Rabu,14 Juli 2010).

Data tersebut sangat ironis bila mengingat pemerintah Indonesia yang sedang mencanangkan pendidikan gratis bagi siswa SD dan SMP tapi tidak mampu untuk mengakomodir pendidikan bagi seluruh anak Indonesia. Akankah nasib pendidikan gratis di Indonesia bagai “Jauh Panggang Dari Api?” alih-alih memajukan pendidikan dan mencetak anak-anak bangsa yang bermartabat yang tercipta malah daftar panjang pengangguran.

Duhai negeriku ……. Begitu sulit engkau bangkit.

Duhai anakku……. Begitu terjal jalan yang kan kau lalui, demi sebuah harga diri.

Posted in Berita dan Informasi, Cerita Ringan, Opini, Uncategorized.


Sekolahnya Manusia

Belajar di alam terbuka

Bacaan yang sungguh menarik yang seharusnya dapat disimak oleh kalangan pendidik, orang tua dan seluruh komponen masyarakat yang masih peduli dengan pendidikan di Indonesia.

Bacaan lengkapnya dapat di lihat di link berikut:

http://munifchatib.wordpress.com/2009/10/24/surat-untuk-menteri-pendidikan-indonesia/

Ditulis oleh Bapak Munif Chatib mengenai sekolahnya manusianya dan apa saja yang seharusnya ada dan terjadi atau berlangsung dalam mendidik manusia. Berikut ini adalah hasil copy-paste tulisan Pak Munif.

SURAT UNTUK MENTERI PENDIDIKAN INDONESIA

MENYELENGGARAKAN SEKOLAH MANUSIA

Oleh: Munif Chatib

MunifKEBERHASILAN pendidikan Indonesia secara makro sangat ditentukan oleh jutaan institusi mikro yang bernama sekolah. Rangkaian jutaan sekolah itulah yang akan menentukan bangunan kualitas pendidikan di negara tercinta ini. Singkatnya, apabila mikro sekolah tersebut unggul, dapat dipastikan kualitas pendidikan, bahkan sumber daya manusia, akan terdongkrak menjadi unggul pula.

Menurut penulis, akan lebih baik apabila istilah ”sekolah unggul” diubah menjadi ”sekolah manusia”. Maklumlah, kriteria unggul akan melahirkan banyak versi. Namun, istilah ”manusia” tentu semua orang sepakat. Segala sisi hakikat manusia harus terwakili dalam proses pendidikan manusia itu sendiri.

Indikator sekolah manusia adalah:

Character Building

Manusia hakikatnya terdiri atas dua dimensi. Dimensi jasmani dan rohani. Dua dimensi itu selayaknya harus tersentuh proses pembelajaran dalam hidup manusia. Apabila porsi pendidikan terhadap dua dimensi tersebut tidak seimbang, terutama minim pada dimensi rohani, akan terjadi ”bencana akhlak”. Tidak ada lagi makhluk yang bernama kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, saling menghargai, dan lain-lain.

Character building (CB) adalah bidang studi yang memenuhi kebutuhan rohani setiap manusia. Namun, sedikit sekali sekolah yang menerapkan CB sebagai bidang studi. Yang ada, materi akhlak menjadi satu dengan materi akidah dalam bidang studi agama.

Agent of Change

Sekolah mestinya menjadi agen perubahan. Roh ini sepertinya sudah luntur. Bahkan, sudah merasuk ke paradigma masyarakat bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang isinya adalah siswa-siswa yang pandai dan baik-baik. Sekolah ”jeblok” adalah sekolah yang isinya adalah siswa-siswa bodoh dan nakal-nakal atau anak buangan.

Sekolah yang favorit atau unggul cenderung tidak menerima siswa-siswa yang bermasalah. Mereka lebih suka berendam pada ”zona nyaman” yaitu the best input. Pada saat penulis menerapkan sistem penerimaan siswa baru di sebuah sekolah tanpa tes masuk, namun tergantung pada jumlah kursi yang tersedia, kepala sekolahnya dengan tidak yakin bertanya, ”Bagaimana nanti kalau kita dapat murid bodoh-bodoh dan nakal-nakal.”

Penulis menjawab, ”Bukan mestinya sebuah sekolah dibangun untuk memintarkan anak yang bodoh dan membaikkan anak yang nakal? Harus jadi agent of change!” Dengan menerapkan Multiple Intelligence Research kepada setiap siswa pada setiap tahun, ternyata tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa mempunyai kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar yang beragam dan harus dihargai.

The Best Process

Konsekuensi agent of change adalah proses pembelajaran yang terjadi di sekolah itu harus terbaik. Pembelajaran yang masuk memori jangka panjang siswanya dan tidak akan lupa seumur hidup. Namun, kenyataannya, yang banyak adalah begitu guru menyelesaikan jam pelajaran, maka hilang juga ilmu yang diajarkan.

Proses pembelajaran harus mengandung kekuatan emosi positif. Mulai proses awal pembelajaran sampai akhir benar-benar menyentuh perasaan siswa.

The Best Teacher

Konsekuensi the best process adalah the best teacher. Kali ini kualitas guru yang dipertanyakan. Beberapa survei menunjukkan kualitas guru di Indonesia masih belum dikatakan baik.

Guru yang baik berperan sebagai fasilitator. Konsep ini sudah lama didengungkan dan dipraktikkan, namun hanya ”awalnya” yang ”hangat”. Setelah itu, kembali kepada paradigma lama, yaitu 80 persen waktu pembelajaran didominasi guru. Seharusnya, persentase proses siswa belajar harus lebih besar daripada persentase proses guru mengajar.

Guru yang baik berperan sebagai katalisator, yaitu terus berusaha memantik kemampuan siswa, termasuk bakatnya. Terutama kepada para siswa yang ”lamban” dalam menerima dan memahami informasi. Bukan malah memihak kepada siswa yang ”pandai” saja.

Guru yang baik selalu berusaha menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswanya. Apabila proses teaching sytle dan learning style sesuai, akan muncul kondisi sebenarnya tidak ada pelajaran yang sulit dan semua siswa mampu menerima informasi dari guru.

Applied Learning

Konten pembelajaran mulai jenjang sekolah dasar sampai seterusnya seharusnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Materi pembelajaran jangan sampai dijadikan ”terpisah”, tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Minimal, peserta didik memahami manfaat materi pembelajaran.

Yang banyak terjadi, banyak siswa tidak mamahami untuk apa sebuah materi diajarkan oleh guru. Dalam sebuah seminar guru yang dihadiri hampir 700 guru TK sampai SMA, penulis bertanya tentang materi ”pohon faktor”, hampir semua guru dapat menjawab semua soal, namun ketika ditanya untuk apa ”pohon faktor” itu, sebagian besar mereka tidak tahu.

Manajemen Sekolah

Dalam sebuah pelatihan manajemen sekolah yang khusus diikuti ratusan penyelenggara atau pemilik sekolah swasta seluruh Indonesia pada 2007, dapat disimpulkan betapa kurangnya pemahaman mereka terhadap manajemen sekolah yang baik. Padahal, manajemen sekolah adalah manajemen pemberdayaan sumber manusia tingkat tinggi, sangat kompleks, dan dibutuhkan orang-orang yang profesional untuk mengelolanya.

Penulis sering menganalogikan manajemen sekolah itu seperti seekor burung merpati putih yang mempunyai dua sayap dan terbang ke sebuah tujuan sangkar kehidupan yang mulia. Sayap pertama adalah context system, yaitu penyelenggara pendidikan, dan sayap kedua adalah content system, yaitu kepala sekolah dan guru.

Mana mungkin merpati itu akan terbang sampai tujuan apabila salah satu sayapnya patah dan tidak dapat bekerja sama. Namun, alangkah cantiknya kalau kepakan sayapnya harmonis. Insya Allah sekolah tersebut akan menjadi the best school dan membawa semua siswanya ke sebuah tujuan yang menjadikan lulusannya manusia yang mempunyai benefiditas dalam hidupnya. (*)

*). Munif Chatib, konsultan pendidikan, penulis buku Sekolahnya Manusia

Jawa Pos, 22 Oktober 2009

Posted in Berita dan Informasi, Opini, Uncategorized.


Hari Ini – Hari Pertama Ujian Nasional 2010

Ujian nasional untuk sekolah dasar akan berlangsung hari ini, 4 Mei 2010. Para siswa telah berusaha “menyesuaikan diri” untuk menghadapi UN dengan cara yang khas, diantaranya mengikuti bimbingan belajar atau berbagai les yang bisa menunjang keberhasilan menghadapi UN.

Para guru telah berusaha “memaksimalkan” kemampuan siswa pada tiga mata pelajaran yang diujikan dengan jalan memberi latihan  “berjubel” yang sesuai dengan kisi-kisi materi yang diujikan serta bimbingan mental dan spiritual.

Para orang tua telah berusaha “mengerahkan segenap kemampuan”  berupa waktu, keuangan, energi dan beribu do’a agar anak-anaknya berhasil tidak hanya untuk lulus tetapi juga untuk mendapatkan sekolah favorit.

Begitu banyak perhatian tercurah untuk UN  hingga detik-detik menuju UN berlangsung dan merupakan sebuah “kewajaran” yang sepertinya patut diberikan untuk menempuh ujian ini.

Sangat disayangkan apabila pengorbanan begitu besar “dinodai” oleh perbuatan manusia-manusia berhati licik dan berpikiran picik mengandalkan siswa-siswinya atau anak-anaknya lulus dengan jalan yang tak terpuji diantaranya membeli soal bocoran (seperti yang tertulis  di koran PR 3 Mei 2010), SMS kunci jawaban, dll. Akhirnya membuat UN tak memiliki nilai sakral. Bila ada yang berhasil lulus dengan nilai tinggi tak membuktikan sama sekali bahwa siswa tersebut memang benar-benar pantas mendapatkannya.

Ada satu kejadian yang cukup memprihatinkan, seorang siswa di salah satu  SMA di negara ini  (nama sekolah dan identitas siswa kami rahasiakan) TIDAK LULUS hanya karena dia MENOLAK bocoran jawaban soal yang diedarkan padahal siswa tersebut masuk peringkat 3 besar dikelasnya sementara siswa lainnya bisa lulus. Alasan penolakan oleh siswa tersebut salah satunya barangkali karena ibunya adalah guru agama sekolah dasar.

Satu hal yang kami para orang tua harapkan ujian ini bukan hanya semata-mata untuk lulus atau melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi akan tetapi merupakan sarana ujian mental dan moral dimana pada saat siswa tersebut lulus dengan nilai tinggi itu adalah patut sebagai hadiah dari keuletannya dan bilamana tidak lulus atau nilainya kecil bukanlah hal yang mampu membuat siswa tersebut berang dan terluka sehingga melakukan tindakan anarkis atau bahkan bunuh diri na’udzubillahhimindzalika.

Selamat berjuang anakku…. ini hanyalah ujian buatan manusia yang banyak nilai kelemahannya. Satu hal yang harus engkau yakin dalam hatimu ujian yang sesungguhnya hanyalah ujian yang Allah berikan agar engkau mendekat kepada-Nya. Dan bila engkau lulus dalam ujian-Nya itulah yang tidak ternilai harganya…..

Posted in Berita dan Informasi, Cerita Ringan, Opini.


UNTUK BUMI

Aksi simpatik ‘Selamatkan Bumi’ . Siswa-siswa dari Sekolah Alam Bandung (SAB) melakukan aksi simpatik dengan menyusuri Sungai Cikapundung, Kamis (22/4/2010). Aksi susur sungai Cikapundung untuk  membuang sampah sepanjang perjalanan mereka. Aksi ini dimulai dengan menanam pohon di lokasi sekolah alam dan di akhiri dengan kampanye hari bumi dengan membagikan selebaran untuk menjaga bumi dari kerusakan, pemanasan global dan pencemaran lingkungan.

Posted in Uncategorized.


Turun Gunung, Tak sekedar Outbound

 

Turun Gunung ke sungai di Hulu. Dari Sekolah Alam Bandung menuju Sekolah Alam Bengkulu.

Pada tanggal 8 – 11 April 2010 Sekolah Alam Bandung mengirimkan guru terbaik dalam bidang Outbound untuk membantu Sekolah Alam Bengkulu menset up kurikulum Outbound. Outbound bukan sekedar flying fox atau menyeberangi jembatan tali. Lebih dari itu Outbound di Sekolah Alam membawa misi membangun karakter tangguh, mandiri, dan bekerja sama dan prinsip-prinsip manajemen lainnya untuk mengelola Alam Semesta secara harmonis menuntaskan misi di dunia sebagai Rahmat Lil ‘alamin. Inilah Outbound Sekolah Alam Bandung. Continued…

Posted in Uncategorized.